Instagram Hapus Fitur Enkripsi End-to-End

  • 08 Mei 2026 20:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kabar baru datang dari Instagram yang mulai menjadi perbincangan di dunia teknologi dan privasi digital. Mulai 8 Mei 2026, platform media sosial milik Meta tersebut resmi menghentikan fitur end-to-end encryption (E2EE) pada Direct Message (DM). Keputusan ini memicu banyak reaksi karena menyangkut keamanan percakapan pribadi jutaan pengguna.

Dilansir dari BBC News dan The Guardian, Meta menyebut fitur tersebut dihentikan karena tingkat penggunaannya dinilai rendah. Sebelumnya, fitur enkripsi ini memang bersifat opsional dan tidak aktif secara otomatis untuk seluruh pengguna Instagram.

Lalu, apa sebenarnya end-to-end encryption? Berdasarkan penjelasan dari situs resmi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Duta Bangsa Surakarta, E2EE merupakan metode keamanan digital yang membuat pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima. Bahkan penyedia layanan aplikasi pun tidak bisa melihat isi percakapan karena pesan telah terenkripsi langsung di perangkat pengguna. Sistem ini bekerja layaknya amplop tertutup yang hanya bisa dibuka oleh pihak yang dituju, sehingga komunikasi menjadi lebih aman dari penyadapan maupun pencurian data.

Dengan dihapusnya fitur tersebut, pesan Instagram nantinya kembali menggunakan sistem standar non-E2EE. Artinya, secara teknis Meta memiliki kemungkinan untuk mengakses isi percakapan tertentu demi moderasi, keamanan, atau kepentingan sistem internal lainnya. Hal inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran terkait privasi pengguna.

Di sisi lain, keputusan ini juga dikaitkan dengan meningkatnya tekanan dari regulator serta kelompok perlindungan anak di berbagai negara. Berdasarkan laporan The Guardian, fitur enkripsi end-to-end selama ini kerap menjadi perdebatan karena dianggap dapat menyulitkan proses pengawasan terhadap aktivitas ilegal di ruang digital, termasuk eksploitasi anak, penyebaran konten berbahaya, hingga kejahatan siber lainnya. Sejumlah pihak menilai sistem pesan yang sepenuhnya terenkripsi membuat platform maupun aparat penegak hukum lebih sulit mendeteksi percakapan mencurigakan sejak awal.

Karena itu, langkah Instagram menghapus fitur tersebut disebut sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan perlindungan privasi pengguna dengan kebutuhan keamanan digital, terutama bagi pengguna usia muda yang dinilai lebih rentan terhadap penyalahgunaan platform.

Meski Meta beralasan bahwa fitur ini jarang digunakan, banyak pakar keamanan siber menilai penghapusan enkripsi end-to-end (E2EE) tetap membawa risiko besar terhadap perlindungan data pribadi. Dilansir situs Wired.com menyebut bahwa langkah ini bisa menjadi contoh buruk yang mengkhawatirkan karena mengurangi lapisan privasi pengguna di platform media sosial besar. Kekhawatiran lain muncul terkait kemungkinan penyalahgunaan data, meningkatnya risiko kebocoran informasi pribadi, hingga menurunnya rasa aman saat berkomunikasi melalui Direct Message Instagram.

Bagi pengguna, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko. Salah satunya adalah menghindari mengirim data sensitif melalui Direct Message Instagram., seperti dokumen pribadi, informasi finansial, atau kode verifikasi akun. Pengguna juga disarankan menggunakan aplikasi pesan yang masih menerapkan E2EE secara default untuk percakapan yang lebih privat dan keamanannya terjamin.

Perubahan ini menunjukkan bahwa isu privasi digital kini semakin kompleks. Di satu sisi, platform ingin meningkatkan pengawasan dan keamanan, namun di sisi lain pengguna juga menuntut perlindungan data yang lebih kuat. Karena itu, memahami cara kerja enkripsi dan menjaga kesadaran digital menjadi hal penting agar pengguna dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial di era sekarang. (RRI/Aldi W)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....