Uni Eropa Wajibkan USB-C untuk Laptop Baru
- 04 Mei 2026 16:57 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Perubahan besar kembali datang dari Uni Eropa yang kini mulai menerapkan aturan baru terkait standar pengisian daya perangkat. Mulai berlaku penuh secara bertahap mulai April 2026, semua laptop baru dengan daya hingga 100 watt diwajibkan menggunakan port USB-C sebagai pengisian utama. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan sistem common charger atau satu standar pengisi daya untuk berbagai perangkat elektronik.
Dilansir dari TechPowerUp, aturan ini secara khusus menargetkan laptop dengan kebutuhan daya hingga 100W agar kompatibel dengan USB-C. Artinya, produsen tidak lagi bebas menggunakan port charger proprietary (khusus) untuk perangkat dalam kategori tersebut. Aturan ini secara hukum juga melarang penjualan laptop baru di seluruh wilayah Uni Eropa jika tidak memenuhi standar tersebut.
Namun, regulasi ini tidak berlaku untuk pasar barang bekas (second-hand market), sehingga laptop model lama yang masih menggunakan colokan lama tetap boleh diperjualbelikan selama bukan merupakan stok baru yang masuk ke zona Uni Eropa. Sementara untuk laptop dengan daya lebih tinggi misalnya laptop gaming, aturan ini masih dibuat fleksibel karena kebutuhan teknis yang berbeda, meskipun tetap disarankan menyediakan opsi pengisian via USB-C sebagai tambahan.
Kebijakan ini merupakan lanjutan dari program common charger yang diumumkan oleh European Commission. Dalam pernyataan resminya, tujuan utama aturan ini adalah mengurangi limbah elektronik sekaligus memudahkan pengguna agar tidak perlu memiliki banyak charger berbeda untuk setiap perangkat. Dengan satu kabel USB-C, berbagai perangkat seperti ponsel, tablet, hingga laptop kini bisa digunakan secara lebih praktis.
Dilansir dari Same Sky Devices, standarisasi USB-C menjadi langkah penting dalam perkembangan industri teknologi modern. USB-C dinilai mampu menghadirkan transfer daya dan data dalam satu konektor yang efisien, sehingga cocok dijadikan standar universal serial bus (USB). Hal ini diperkuat oleh laporan EraBlue yang menyebutkan bahwa USB-C memiliki sejumlah keunggulan pada laptop, seperti desain konektor yang bolak-balik (reversible), kecepatan transfer data yang tinggi, serta dukungan teknologi fast charging. Kombinasi ini membuat USB-C semakin fleksibel digunakan di berbagai perangkat, mulai dari ponsel hingga laptop.
Namun, di balik kemudahannya, aturan ini juga memiliki sejumlah tantangan. Dilansir dari How-To Geek, tidak semua implementasi USB Type-C memiliki kemampuan yang sama meskipun bentuknya seragam. Perbedaan dukungan fitur seperti kecepatan transfer data, pengisian daya (Power Delivery), hingga output video membuat pengalaman pengguna bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis port, kabel, dan adaptor yang digunakan. Selain itu, pengguna masih sering membutuhkan adaptor tambahan untuk menghubungkan perangkat lama, sementara minimnya penanda pada port membuat fungsi tiap USB-C tidak selalu mudah dikenali. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kebingungan, terutama bagi pengguna awam, jika tidak disertai edukasi yang memadai.
Secara keseluruhan, aturan ini membawa dampak positif dalam hal efisiensi dan keberlanjutan, meskipun tetap menyisakan tantangan pada sisi implementasi teknis. Dengan standar yang semakin seragam, pengalaman penggunaan perangkat diharapkan menjadi lebih sederhana dan ramah lingkungan. Kini, pertanyaannya, apakah langkah Uni Eropa ini juga akan diikuti oleh negara lain, termasuk Indonesia, dalam mendorong standar pengisian daya yang lebih universal? (RRI/Aldi W)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....