Hardiknas 2026: Bunda Literasi NTB Ingatkan Pentingnya Budaya Baca

  • 03 Mei 2026 19:43 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026
  • Bunda Literasi NTB, Sinta M. Iqbal ingat pentingnya budaya baca

‎RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan Bunda Literasi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta M. Iqbal, untuk mengingatkan pentingnya budaya baca bagi anak-anak di wilayah pelosok. Bersama organisasi Tastura Mengajar, ia mengunjungi Gubuk Panggel, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Sabtu, 2 Mei 2026.

Kegiatan bertajuk “Bergerak di Selatan, Spesial Aksi di Hardiknas” itu diisi dengan penyerahan bantuan alat tulis dan buku bacaan kepada anak-anak setempat. Selain itu, rombongan juga melakukan pemetaan kebutuhan dasar masyarakat yang dinilai mendesak untuk segera ditindaklanjuti.

‎Bunda Sinta mengatakan, budaya literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Menurutnya, keterbatasan akses di wilayah pelosok tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk berkembang.

“Budaya baca itu sangat penting. Selain memberikan bantuan, kami juga ingin memetakan kebutuhan mendesak masyarakat agar bisa disuarakan lebih luas,” ujar Bunda Sinta.

Ia menegaskan, anak-anak di daerah terpencil memiliki potensi yang tidak kalah dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Momentum Hardiknas, kata dia, menjadi bukti bahwa kualitas tidak ditentukan oleh lokasi.

“Di sini kita melihat langsung, anak-anak yang hebat dan luar biasa. Ini membuktikan bahwa mereka punya kemampuan yang sama,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Bunda Sinta juga menyaksikan langsung perjuangan anak-anak Panggel dalam mengakses pendidikan. Sebagian dari mereka harus berjalan kaki hingga dua jam pulang-pergi untuk mencapai sekolah.

Meski demikian, ia tetap optimistis anak-anak tersebut memiliki masa depan cerah. “Perjalanan jauh itu bukan halangan. Insyaallah mereka akan menjadi generasi NTB yang bermanfaat di masa depan,” ujarnya.

Selain memberikan motivasi, Bunda Sinta juga berdialog dengan warga setempat untuk mendengar berbagai persoalan yang dihadapi. Ia bahkan turut berjalan bersama anak-anak saat mereka pulang sekolah.

Sementara itu, Ketua Tastura Mengajar, Lalu Gitan Prahana, menyoroti persoalan akses sebagai kendala utama pendidikan di wilayah tersebut. Menurut dia, bukan hanya fasilitas belajar yang terbatas, tetapi juga kondisi infrastruktur yang belum memadai.

“Ada puluhan anak di Panggel yang belum memiliki akses jalan yang layak. Mereka harus berjalan berjam-jam ke sekolah. Saat musim hujan, kondisi jalan yang rusak membuat mereka tidak bisa berangkat sama sekali,” kata Gitan.

Ia menambahkan, buruknya akses jalan membuat tingkat kehadiran siswa sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jalan berlumpur dan licin saat hujan kerap memutus akses pendidikan bagi anak-anak di Gubuk Panggel.

Kondisi ini, menurut Gitan, membutuhkan perhatian serius dari pemerintah agar hak pendidikan anak-anak di wilayah terpencil dapat terpenuhi secara merata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....