DLHK NTB dan BMKG Antisipasi Kemarau 2026 yang Lebih Kering
- 30 Apr 2026 21:57 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Titik panas menjadi perhatian utama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB di periode musim kemarau 2026. Titik panas atau hot spot berpotensi muncul di Taman Nasional Rinjani akibat kenaikan suhu yang ektrem.
Mengantisipasi dampak titik panas, beberapa upaya preventif telah dilakukan Pemerintah Provinsi NTB. Upaya pencegahan meliputi sosialisasi kepada masyarakat di sekitar Taman Nasional Rinjani. Pencegahan dini dilakukan Satuan Petiugas lewat pemberian materi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan. Pemberian materi pencegahan kebakaran hutan dilakukan bersama Polri.
“Kekeringan, sumber mata air yang hilang,ketiadaan tutupan lahan memerlukan langkah bersifat identifikasi seperti menjagar mata air tetap mengalir,” kata Samsudin, S.Hut., M.Si., PLT Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB di tengah Dialog Kentongan RRI Mataram, Selasa, 31 Maret 2026. Samsudin menjadi narasumber di Dialog Kentongan RRI Mataram bertopik Antisipasi Dini Kemarau Tahun Ini Yang Lebih Kering.
Samsudin mengatakan, pemetaan terhadap sumber daya air perlu dilakukan. Pemetaan meliputi kondisi Sungai, bendungan, ddan sumur. Tujuannya untuk mendorong masyarakat melakukan penghematan air. melalui identifikasi juga, pemerintah dapat menerbitkan regulasi yang berisi perlindungan bagu sumber data air.
“Sudah menjadi tugas Kementerian untuk itu melalui rapat koordinasi yang intens. Kami di provinsi pun sama dengan mengoptimalkan satgas pemadam kebakaran yang dimiliki taman
Samsudin mengatakan, kebakaran bisa juga terjadi di Tempat Pembuangan Akhir. Sehingga sarana dan prasarana harus disiapkan. Persiapan ditempuh sedini mungkin lewat pelatihan atau simulasi. Pelatihan dilakukan bersama swasta dan Badan Usaha Milik Negara. Tujuannya, agar terintegrasi seluruh opsi perencanaan yang telah disusun secara sistematis.
Tahun 2026, kemarau akan dirasakan lebih kering. Informasi itu mengemuka setelah BMKG melakukan anlisis dan mendesiminasikannya di Maret 2026. Poinnya, NTB akan memasuki musim kemarau sejak Dasarian Pertama April 2026. Diawali curah hujan yang berkurang hingga puncaknya atau hari tanpa hujan.
“Puncak musim kemarau bisa ditandai lewat Hari Tanpa Hujan yang berlangsung 30-60 hari,” kata Cakra Mahasurya, Pengamat Meteorologi Geofisika Pertama BMKG Stasiun Klimatologi NTB yang juga menjadi narasumber.
Cakra mengatakan, HTH merupakan cara BMKH memonitoring musim di Indonesia. Dari situ bisa dipetik kesiapan menghadapi pengaruh minimnya ketersediaan air bersih. HTH juga bisa dijelaskan melalui infografis. Termasuk memastikan skala kekeringan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Indonesia pernah mengalami kekeringan yang ekstrem tahun 2015. El Nino telah memengaruhi musim hujan mulai akhir tahun 2014 hingga pertengahan tahun 2015.
Menguatnya El Nino menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan. Sementara tahun ini, pengaruh El Nino masih dalam batas netral sampai pertengahan tahun. Puncak kemarau diperkirakan terjadi Agustus 2026. Meski merasakan puncak muskm kemarau, kondisi ini akan berangsur menurun seiring pergerakan semu matahari.
“Bertiupnya Angin Monsun Asia akan menjadi Pelepas dahaga di tengah musim kemarau tahun ini,” kata Cakra.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....