Peran Nafta di Balik Kenaikan Harga Plastik

  • 13 Apr 2026 13:39 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Belakangan ini, kenaikan harga plastik mulai terasa di berbagai lini kehidupan. Harga kantong plastik, kemasan makanan, hingga botol minuman perlahan ikut naik. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha, terutama UMKM yang bergantung pada kemasan plastik. Tidak sedikit yang akhirnya harus menyesuaikan harga jual, dan pada akhirnya konsumen ikut menanggung kenaikan tersebut. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya?

Plastik bukanlah produk yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari proses panjang di industri energi dan petrokimia. Berdasarkan publikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Bliplastik.com, plastik berasal dari senyawa hidrokarbon yang diolah dari minyak bumi. Minyak mentah kemudian disuling menjadi beberapa fraksi, yang salah satunya adalah nafta.

Selanjutnya, nafta diproses lebih lanjut melalui metode cracking untuk memecah molekul hidrokarbon menjadi monomer seperti etilena dan propilena. Senyawa inilah yang kemudian menjadi bahan dasar pembentukan berbagai jenis plastik, seperti seperti polietilena (PE) untuk kantong dan kemasan, polipropilena (PP) untuk wadah makanan dan peralatan rumah tangga, serta polivinil klorida (PVC) untuk pipa dan bahan konstruksi.

Nafta memiliki beberapa jenis seperti light naphtha, heavy naphtha, dan aromatic naphtha. Dilansir dari ScienceDirect.com, light naphtha banyak digunakan untuk menghasilkan bahan petrokimia seperti etilena dan propilena, yang menjadi komponen bahan utama pembuatan plastik. Inilah yang membuat nafta menjadi komoditas krusial dalam industri global.

Lalu, apa yang memicu kenaikan harga Nafta? Dilansir dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) dijelaskan salah satu faktor utamanya adalah gangguan pada pasokan bahan baku petrokimia akibat dinamika geopolitik global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu jalur distribusi energi strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada distribusi minyak dan bahan baku petrokimia, termasuk nafta. Ketika pasokan terganggu, harga bahan baku industri plastik ikut terdorong naik. Hal ini menunjukkan bahwa harga nafta sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi global, sehingga gejolak geopolitik dapat memicu kenaikan harga plastik secara luas.

Kenaikan harga nafta ini kemudian menimbulkan efek domino. Ketika pasokan terhambat, harga bahan baku ikut naik. Kondisi ini langsung berdampak pada industri plastik. Biaya produksi meningkat, sehingga produsen menyesuaikan harga jual. Akibatnya, berbagai produk turunan seperti kemasan, logistik, hingga barang konsumsi ikut mengalami kenaikan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan konsumen. UMKM harus menyesuaikan harga produk, sementara masyarakat menghadapi kenaikan harga barang sehari-hari. Dalam skala yang lebih luas, kondisi ini bahkan dapat memicu tekanan inflasi di sektor tertentu.

Kenaikan harga plastik bukan terjadi begitu saja, tetapi dipengaruhi banyak faktor dari hulu hingga hilir. Mulai dari minyak bumi, nafta, hingga proses produksi, semuanya saling berkaitan. Dengan memahami hal ini membuat kita lebih sadar bahwa perubahan di sektor energi bisa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Mulai lebih bijak dalam menggunakan plastik dengan mengurangi pemakaian sekali pakai dan memilih produk yang bisa digunakan ulang. Pertimbangkan juga pilihan yang lebih ramah lingkungan agar dampaknya lebih baik untuk jangka panjang. (RRI/Aldi W)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....