Mengapa Seseorang Jadi Manipulatif & Suka Playing Victim? Ini Kata Sains

  • 02 Apr 2026 05:02 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Mengapa seseorang tumbuh menjadi manipulatif dan hobi playing victim? Simak tinjauan ilmiah mengenai fenomena TIV dan alasan psikologis di balik sikap merasa benar sendiri.

RRI.CO.ID, Mataram - Kita mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam setiap konflik, namun secara paradoks justru dialah yang mengendalikan narasi untuk menyalahkan orang lain. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah Victim Signaling yang sering kali berkelindan dengan sifat narsistik dan manipulatif.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar mental seseorang hingga mereka tumbuh menjadi sosok yang merasa dunia hanya berputar di sekitarnya? Berikut adalah tinjauan mendalam dari sudut pandang sains dan psikologi.

1. Akar Trauma dan Mekanisme Pertahanan Diri

Banyak perilaku manipulatif berakar dari pola asuh masa kecil. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan "pemujaan berlebih" (dianggap sempurna tanpa cela) atau sebaliknya, lingkungan yang sangat tidak stabil, berisiko mengembangkan sifat narsistik.

Sikap playing victim sering kali merupakan strategi adaptif yang dipelajari. Dengan memosisikan diri sebagai korban, seseorang mendapatkan dua keuntungan psikologis sekaligus: simpati dari lingkungan dan pembebasan dari tanggung jawab moral. Ketika mereka merasa benar sendiri, otak mereka sebenarnya sedang melakukan proteksi terhadap harga diri (self-esteem) yang rapuh agar tidak hancur oleh kritik.

2. Tinjauan Sains: Dark Triad dan Kurangnya Empati Afektif

Ilmu pengetahuan mengategorikan perilaku ini ke dalam kelompok Dark Triad, yang terdiri dari narsisme, machiavellianisme, dan psikopati. Secara neurologis, terdapat perbedaan aktivitas pada bagian otak yang mengatur empati.

Seseorang yang manipulatif mungkin memiliki "empati kognitif" yang tinggi (mereka tahu apa yang Anda rasakan dan cara memanfaatkannya), namun sangat rendah dalam "empati afektif" (mereka tidak peduli pada rasa sakit yang Anda rasakan). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing komponen yang membentuk Dark Triad:

Narsisme. Ditandai dengan keyakinan diri yang berlebihan, kebutuhan akan kekaguman, perasaan superioritas, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Individu narsis sering kali mencari validasi dari orang lain dan merasa berhak atas perlakuan khusus.

Psikopati. Ciri utama psikopati adalah kurangnya empati, impulsivitas, manipulasi, dan perilaku antisosial. Individu dengan kecenderungan psikopati sering kali tidak memiliki penyesalan atas tindakan mereka dan cenderung melanggar norma sosial.

Machiavellianisme. Sifat ini mencerminkan kecenderungan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi. Individu Machiavellian sering kali licik, strategis, dan tidak bermoral dalam mencapai tujuan mereka.

3. Fenomena "Interpersonal Victimhood"

Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences memperkenalkan konsep TIV (Tendency for Interpersonal Victimhood). Peneliti mengungkapkan bahwa perilaku ini terdiri dari empat komponen utama:

Kebutuhan akan pengakuan atas penderitaan mereka.

Keasyikan dengan superioritas moral (merasa lebih suci/benar).

Kurangnya empati terhadap penderitaan orang lain.

Kecenderungan untuk terus-menerus merenungkan kesalahan orang lain (rumination).

Pendapat Ahli dan Kutipan Ilmiah

Dr. Scott Barry Kaufman, seorang psikolog kognitif terkemuka, menjelaskan bahwa orang-orang dengan skor TIV tinggi cenderung melihat tantangan hidup yang netral sekalipun sebagai serangan personal.

"Strategi playing victim bukan hanya tentang mencari perhatian, tetapi merupakan alat kontrol sosial untuk membungkam kritik dan mengalihkan kesalahan," ungkapnya dalam ulasan mengenai sifat narsisme dan victimhood.

Selain itu, riset dari Tel Aviv University yang diterbitkan dalam ScienceDirect menegaskan bahwa kecenderungan merasa sebagai korban adalah sifat kepribadian yang stabil. Hal ini sering kali diperkuat oleh lingkungan media sosial yang memberikan panggung bagi narasi penderitaan diri sebagai bentuk kekuasaan baru.

Mengapa Mereka Merasa "Pusat Semesta"?

Secara kognitif, individu ini terjebak dalam egocentric bias. Mereka kesulitan memahami bahwa orang lain memiliki kehidupan, kebutuhan, dan beban yang sama beratnya. Bagi mereka, orang lain hanyalah "pemeran pendukung" dalam drama kehidupan yang mereka bintangi.

Jika perilaku ini tidak ditangani melalui terapi profesional seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pola ini akan terus berulang dan merusak hubungan interpersonal secara permanen karena ketidakmampuan mereka untuk mengakui kesalahan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....