Inovasi SMKN 1 Lingsar Jawab Tantangan Lingkungan Melalui Pengolahan Sampah

  • 05 Mar 2026 07:47 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Permasalahan sampah menjadi perhatian serius di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Lingsar. Alih-alih sekadar membersihkan, sekolah memilih pendekatan inovatif berbasis pembelajaran praktik. Sampah organik diolah menjadi briket arang yang bernilai ekonomis.

Program ini lahir dari diskusi internal mengenai persoalan Tempat Pembuangan Akhir yang kian penuh. Kepala SMKN 1 Lingsar Ahmad Sabli, S.Pd., melihat isu tersebut sebagai peluang pembelajaran kontekstual. Siswa didorong memanfaatkan potensi yang ada di sekitar sekolah.

“Kita mulai dari pemilahan. Sampah plastik dipisah, sampah organik kita coba olah menjadi briket atau setidaknya arang,” ungkapnya, Kamis 5 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama bukan keuntungan finansial, melainkan proses belajar. Jika produk memiliki nilai jual, itu menjadi nilai tambah. Prinsipnya, siswa harus terlibat aktif dalam setiap tahapan produksi.

Briket atau arang yang dihasilkan menyasar pasar rumah tangga dan pedagang kecil. Strategi ini dipilih karena lebih realistis dan mudah dijangkau. Sekolah tidak langsung menargetkan pasar industri besar.

“Kita tidak muluk-muluk. Kalau bisa dipakai warung atau pedagang sate saja sudah bagus,” tuturnya.

Selain pengolahan sampah, sejumlah jurusan mengembangkan inovasi lain. Jurusan teknik listrik merancang isolator keramik sebagai alternatif produk langka. Potensi kerja sama dengan pihak luar pun mulai dijajaki.

Jurusan lain mengeksplorasi pengolahan nira menjadi produk turunan bernilai tambah. Kreativitas ini diarahkan agar siswa mampu melihat peluang ekonomi dari sumber daya lokal. Pendekatan tersebut sejalan dengan pendidikan berbasis potensi daerah.

Ahmad Sabli menekankan bahwa setiap ide harus melalui uji coba dan evaluasi. Kegagalan dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dana operasional sekolah dimanfaatkan untuk mendukung eksperimen edukatif tersebut.

“Kalau gagal, tidak apa-apa. Itu proses belajar, nanti kita evaluasi dan perbaiki,” tegasnya.

Ia memastikan guru berperan sebagai fasilitator, bukan pelaksana utama. Siswa didorong membongkar, merakit, hingga melakukan perawatan alat sendiri. Metode ini diyakini membentuk mental problem solver.

Dengan strategi tersebut, inovasi tidak berhenti pada konsep. Siswa mendapatkan pengalaman nyata yang relevan dengan dunia kerja. Program berbasis lingkungan ini sekaligus menanamkan kesadaran ekologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....