Klarifikasi Soal “Hujan Buatan”, Ruslan: Tidak Ada Kekerasan Fisik

  • 28 Feb 2026 19:04 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Isu penyiraman air terhadap siswa yang terlambat salat berjamaah juga menjadi sorotan publik. Pihak sekolah menilai narasi tersebut tidak menggambarkan kejadian secara lengkap.

Kepala SMKN 1 Mataram, Ruslan, menyebut tindakan yang dimaksud bukan penyiraman langsung kepada individu. Ia menyebutnya sebagai “hujan buatan” yang dilempar ke udara.

“Itu bukan diguyur per orang. Airnya dilempar ke atas, jadi seperti hujan,” ujarnya, Sabtu 28 Februari 2026.

Menurutnya, metode tersebut dipilih agar tidak terjadi kontak fisik langsung. Ia telah menekankan kepada guru agar menghindari benturan fisik dalam pembinaan.

“Tidak boleh ada kekerasan fisik. Itu komitmen kami,” tegas Ruslan.

Kegiatan tersebut dilakukan saat siswa berkumpul dan enggan menuju musala. Namun, ia mengakui ada siswa rajin yang ikut terkena air.

“Yang rajin tapi kebetulan melintas memang kena air. Itu yang kemudian kami evaluasi,” katanya.

Ia memastikan tidak ada siswa yang mengalami cedera atau perlakuan kasar. Seluruh tindakan disebut dalam koridor pengawasan.

Sekolah pun telah memutuskan menghentikan metode tersebut. Evaluasi dilakukan untuk mencegah kesalahpahaman serupa di masa depan.

Ruslan menilai pendidikan karakter memang membutuhkan inovasi. Namun, inovasi tersebut tetap harus adaptif terhadap sensitivitas publik.

“Kami akan cari cara yang lebih bijak dan diterima semua pihak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya klarifikasi sebelum menyimpulkan sebuah kejadian. Informasi sepihak dinilai dapat merusak reputasi lembaga.

Sekolah kini fokus memperkuat pendekatan persuasif. Pengarahan ibadah tetap dilakukan melalui pengeras suara tanpa tindakan tambahan.

“Kami tetap mengajak, tapi tanpa cara yang bisa menimbulkan tafsir berbeda,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....