Ini Cara Jitu SMPN 1 Mataram Cegah Perundungan Siswa

  • 25 Feb 2026 19:16 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Maraknya kasus perundungan di kalangan remaja mendorong sekolah memperkuat langkah pencegahan sejak dini. Lingkungan pendidikan dinilai harus menjadi ruang aman yang menumbuhkan rasa saling menghargai. Karena itu, berbagai strategi diterapkan secara sistematis di SMPN 1 Mataram.

Plt. Kepala SMPN 1 Mataram, Muhammad Taufik, menegaskan bahwa pencegahan perundungan tidak cukup hanya dengan aturan tertulis. Menurutnya, pendekatan edukatif dan pembinaan karakter harus berjalan beriringan.

“Kami bekerja sama dengan lembaga perlindungan anak dan rutin mengingatkan siswa agar tidak melakukan perundungan. Minimal dua kali dalam seminggu kami tekankan soal ini,” ujarnya, Rabu 25 Februari 2026.

Ia menjelaskan, sosialisasi dilakukan secara berkala untuk membangun kesadaran kolektif siswa. Materi yang disampaikan mencakup dampak psikologis dan sosial dari tindakan perundungan.

Selain itu, sekolah menerapkan aturan tegas terkait penggunaan telepon genggam. Kebijakan ini diambil karena perundungan kerap terjadi melalui media digital.

“Perundungan paling rentan terjadi lewat HP. Karena itu kami melarang siswa membawa HP ke sekolah,” tegasnya.

Jika ditemukan pelanggaran, pihak sekolah tidak langsung memberikan sanksi berat. Orang tua akan dipanggil untuk mendapatkan pembinaan bersama.

Muhammad Taufik menilai keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam pengawasan. Sinergi antara sekolah dan keluarga dianggap efektif menekan potensi perundungan.

Penguatan nilai toleransi juga diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satunya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengangkat tema perundungan.

“Lewat P5 kami angkat tema perundungan agar anak-anak paham dampaknya. Mereka diajak untuk saling menghargai dan membantu,” katanya.

Ia mencontohkan pengalaman seorang siswa yang dengan sukarela membimbing temannya belajar membaca dan menulis. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa empati bisa tumbuh melalui pembiasaan.

Sekolah juga menegaskan tidak pernah memindahkan siswa hanya karena memiliki keterbatasan tertentu. Justru, pembinaan menjadi bagian dari tanggung jawab moral tenaga pendidik.

Menurutnya, guru memiliki peran sentral dalam menciptakan suasana kelas yang inklusif. Pendekatan humanis diyakini mampu mencegah munculnya tindakan diskriminatif.

Hingga kini, pihak sekolah mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus perundungan. Baik dari siswa maupun dari guru Bimbingan Konseling, kondisi dinilai kondusif.

“Kami bersyukur belum ada laporan perundungan. Artinya suasana sekolah tetap terjaga dan saling menghargai," katanya.

Dengan pengawasan ketat, edukasi rutin, dan penanaman nilai toleransi, SMPN 1 Mataram berupaya menjaga lingkungan belajar tetap aman. Sekolah menargetkan budaya anti-perundungan terus tumbuh sebagai bagian dari karakter siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....