Jaga Kualitas Puasa, SMPN 15 Mataram Sesuaikan Pola Belajar saat Ramadan

  • 25 Feb 2026 13:20 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 15 Mataram resmi menyesuaikan pola pembelajaran selama bulan Ramadan dengan mengacu pada kebijakan Dinas Pendidikan Kota Mataram. Penyesuaian itu meliputi pengurangan durasi jam pelajaran dan perubahan waktu masuk sekolah. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak hari pertama masuk sekolah di bulan puasa.

Durasi satu jam pelajaran yang sebelumnya 40 menit kini dipangkas menjadi 30 menit. Selain itu, siswa yang biasanya masuk pukul 07.00 Wita, kini mulai belajar pukul 08.00 Wita. Meski ada perubahan teknis, sistem lima hari sekolah tetap dipertahankan.

Kepala SMPN 15 Mataram, Sri Wahyu Indriani, menegaskan bahwa kebijakan tersebut dirancang agar ritme belajar tetap terjaga. Menurutnya, penyesuaian waktu bukan berarti mengurangi substansi pembelajaran.

“Untuk pembelajaran di bulan Ramadan ini, kami merujuk pada surat edaran dari Dinas Pendidikan Kota Mataram. Satu jam pelajaran yang sebelumnya 40 menit menjadi 30 menit, dan masuk sekolah dimulai pukul 08.00,” jelasnya, Rabu 25 Februari 2026.

Ia mengungkapkan, pengurangan durasi dilakukan untuk menjaga kondisi fisik siswa dan guru yang sedang menjalankan ibadah puasa. Dengan skema ini, sekolah berharap kegiatan belajar tetap efektif tanpa menguras energi secara berlebihan.

Selain penyesuaian jam belajar, sekolah juga memasukkan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari kokurikuler. Setiap pagi, Senin hingga Kamis, siswa Muslim mengikuti tadarus Al-Qur’an mulai pukul 08.00 hingga 09.00 Wita.

“Kegiatan tadarus ini kami masukkan ke dalam kokurikuler dan ada penilaiannya. Setiap kelas didampingi satu pendamping dan satu fasilitator agar pelaksanaannya maksimal,” ujarnya.

Untuk hari Jumat, kegiatan diganti dengan salat duha dan penguatan iman dan takwa. Setelah sesi keagamaan, seluruh siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga pukul 14.00 Wita.

Sekolah juga memastikan seluruh peserta didik dari berbagai agama tetap mendapat ruang ibadah yang proporsional. Siswa non-Muslim melaksanakan kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing dengan pendampingan guru agama.

“Jam 08.00 sampai 09.00 digunakan untuk ibadah sesuai agama masing-masing. Setelah itu baru KBM dimulai bersama,” katanya.

Sri Wahyu Indriani menekankan bahwa kualitas pembelajaran harus tetap konsisten meski waktu dipersingkat. Ia meminta guru menyesuaikan metode agar materi tetap tersampaikan secara bermakna.

“Saya berharap kualitas tetap dijaga. Guru bisa memvariasikan model dan media pembelajaran agar tetap menyenangkan dan tidak membebani anak,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar pembelajaran selama Ramadan tidak dipenuhi tugas berlebihan. Pendekatan yang menggembirakan dinilai lebih efektif untuk menjaga semangat siswa.

“Jangan terlalu banyak beban dan tugas. Anak-anak harus tetap belajar dengan suasana yang menyenangkan,” tuturnya.

Dengan skema ini, pihak sekolah optimistis proses pendidikan tetap berjalan stabil sepanjang Ramadan. Kolaborasi guru, siswa, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan penyesuaian tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....