Mengapa Huruf Keyboard Tidak Berurutan Sesuai Abjad?
- 23 Feb 2026 10:14 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Susunan huruf pada keyboard yang digunakan sehari-hari sering kali menimbulkan pertanyaan. Mengapa deretan hurufnya tidak mengikuti urutan alfabet seperti ABCDE, melainkan dimulai dengan QWERTY? Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah awal mesin tik dan keterbatasan teknologi pada masanya, bukan karena pertimbangan estetika atau kebiasaan semata.
Keyboard modern saat ini berasal dari mesin tik atau typewriter yang mulai dikembangkan pada abad ke-19. Salah satu tokoh penting di balik kelahiran mesin tik adalah Christopher Latham Sholes, seorang penemu asal Amerika Serikat, yang pada tahun 1868 mematenkan mesin tik praktis pertama bersama Carlos Glidden dan Samuel W. Soule.
Pada tahap awal, susunan tombol mesin tik memang mengikuti urutan alfabet agar mudah dipelajari oleh pengguna baru. Namun, desain ini justru menimbulkan masalah teknis. Dilansir dari Fossbytes.com, setiap tombol pada mesin tik mekanik terhubung dengan tuas logam yang akan bergerak dan menghantam pita tinta saat ditekan. Ketika pengetikan dilakukan terlalu cepat, terutama pada huruf-huruf yang sering muncul berurutan dalam bahasa Inggris, tuas-tuas tersebut kerap saling bertabrakan dan tersangkut.
Masalah ini mendorong para perancang mesin tik mencari solusi agar perangkat dapat digunakan lebih lancar. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah teori bigram frequency, yakni analisis seberapa sering pasangan huruf tertentu muncul berdampingan dalam kata-kata bahasa Inggris. Berdasarkan teori ini, susunan huruf kemudian diatur ulang agar pasangan huruf yang sering digunakan tidak ditempatkan berdekatan. Dari sinilah susunan QWERTY mulai dikembangkan sebagai solusi teknis untuk mengurangi kemacetan tuas mesin tik.
Menurut laporan Smithsonian Magazine, tujuan utama tata letak QWERTY bukan untuk mempercepat pengetikan, melainkan untuk menyeimbangkan kecepatan dan stabilitas mesin. Dengan jarak antarhuruf yang lebih strategis, mesin tik menjadi lebih jarang macet dan pengguna dapat mengetik dengan lebih nyaman tanpa harus sering berhenti memperbaiki tuas yang tersangkut. Desain ini kemudian terbukti efektif dan mulai diadopsi secara luas oleh produsen mesin tik.
Meski teknologi mesin tik mekanik telah lama ditinggalkan, susunan QWERTY tetap bertahan hingga era komputer modern. Standarisasi, kebiasaan pengguna, serta biaya adaptasi yang tinggi membuat tata letak ini terus digunakan secara global. Dengan demikian, QWERTY bukan sekadar susunan acak, melainkan warisan solusi teknis yang bertahan lintas generasi dan membentuk cara manusia berinteraksi dengan teknologi hingga saat ini. (RRI/Aldi W.)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....