Pakar Ekonomi Unram: Kejahatan Digital masif, Literasi Perbankan Harus Diperkuat

  • 22 Feb 2026 20:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram -b Maraknya kasus penipuan dan kejahatan digital, mulai dari pembajakan rekening hingga investasi bodong, menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan di era kemajuan teknologi saat ini. Pakar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram), Dr. Iwan Harsono, menilai meningkatnya kasus tersebut dipicu oleh dua faktor utama, yakni kecanggihan pelaku kejahatan dan masih rendahnya literasi digital masyarakat.

Dr. Iwan menjelaskan, perkembangan teknologi yang pesat turut membuka celah kejahatan baru, khususnya di sektor perbankan dan transaksi digital. Modus kejahatan pun semakin canggih, sehingga banyak nasabah yang tidak menyadari rekeningnya telah dibajak hingga saldo terkuras habis.

“Sekarang teknologi makin maju, otomatis celah-celah kejahatan juga makin canggih. Banyak akun dibajak karena kelalaian, padahal sistem perbankan sudah menerapkan pengamanan berlapis,” jelasnya, Minggu 22 Februari 2026.

Ia menekankan pentingnya kehati-hatian nasabah dalam menjaga keamanan data pribadi, terutama perangkat ponsel yang terhubung langsung dengan layanan perbankan digital. Menurutnya, fitur keamanan seperti verifikasi dua langkah dan kode OTP sudah cukup kuat, namun menjadi sia-sia jika ponsel nasabah dapat diakses pihak lain.

“Kalau HP sudah tidak aman dan dibaca orang lain, sebaiknya segera diblokir dan lapor ke bank. Intinya, di tengah kejahatan perbankan yang makin canggih, nasabah harus jauh lebih hati-hati,” katanya.

Lebih lanjut, Dr. Iwan menilai rendahnya literasi digital dan perbankan turut memperparah situasi. Ia menyebut banyak korban penipuan digital yang berasal dari kurangnya pemahaman terhadap risiko transaksi dan investasi daring.

“Ada dua hal, pertama penipunya makin canggih, kedua literasi masyarakat masih kurang. Ini perlu peningkatan literasi digital dan perbankan oleh OJK, perbankan, dan kementerian terkait. Kerugian akibat kejahatan ini kalau dijumlahkan bisa mencapai ratusan miliar rupiah,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena masyarakat yang mudah tergiur penawaran investasi digital dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Menurutnya, kondisi ekonomi yang berada dalam masa transisi membuat sebagian masyarakat, termasuk mahasiswa dan generasi muda, memiliki keinginan kuat untuk cepat kaya tanpa perhitungan matang.

“Banyak orang ingin cepat kaya, padahal itu sulit. Investasi itu perlu kerja keras, ketelitian, dan pemahaman. Kalau hanya mengejar instan, ujung-ujungnya justru buntung,” ujarnya.

Dr. Iwan berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat edukasi dan sosialisasi literasi digital secara masif guna melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan digital yang kian kompleks.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....