Risiko Tersembunyi di Balik WiFi Publik Gratis

  • 13 Feb 2026 15:17 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah kemudahan akses internet era digital, penggunaan WiFi publik di tempat umum seperti kafe, bandara, perpustakaan kerap menjadi pilihan utama. Namun, praktik ini menyimpan risiko keamanan siber yang signifikan, sebagaimana diungkap Gerald Vincent dalam video YouTube-nya "Kalo lagi pake wifi gratis GAK BOLEH buka m-banking", bahwa WiFi gratis rentan terhadap serangan man-in-the-middle dan pencurian data, khususnya saat membuka m-banking, yang dapat berujung pada kerugian finansial besar.

Risiko tersebut bukan sekadar peringatan tanpa dasar. Dalam laporan “Behind the Scenes” edisi Oktober 2025, Google mengimbau pengguna Android agar lebih berhati-hati saat terhubung ke WiFi publik. Berdasarkan laporan tersebut, banyak jaringan terbuka tidak dilengkapi enkripsi memadai sehingga memudahkan pelaku kejahatan siber menyusup ke perangkat pengguna. Kondisi ini meningkatkan risiko penipuan mobile, terutama pada sistem operasi Android yang banyak digunakan secara global.

Ancaman WiFi publik juga dijelaskan berdasarkan laman resmi BMKG CSIRT (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika - Computer Security Incident Response Team) yang memaparkan risiko tersembunyi saat menggunakan jaringan terbuka. Dalam penjelasannya, serangan man-in-the-middle memungkinkan peretas mencegat komunikasi antara pengguna dan server. Artinya, data sensitif seperti username, kata sandi, hingga informasi keuangan bisa direkam tanpa disadari. Selain itu, terdapat pula modus “evil twin”, yaitu jaringan palsu yang menyerupai hotspot resmi untuk menjebak korban.

Lebih lanjut dari laman bantuan keamanan siber milik Trend Micro, WiFi publik juga rawan terhadap teknik packet sniffing dan session hijacking. Serangan ini memungkinkan pelaku mengambil alih sesi login pengguna, terutama jika situs yang diakses tidak menggunakan enkripsi HTTPS. Aktivitas sederhana seperti membuka e-mail atau login media sosial di jaringan terbuka dapat menjadi pintu masuk pencurian identitas.

Untuk meminimalkan risiko, sejumlah langkah pencegahan direkomendasikan dari berbagai sumber tersebut. Laman CSIRT BMKG menjelaskan pengguna disarankan menghindari transaksi keuangan atau akses data sensitif saat menggunakan jaringan publik. Jika terpaksa terhubung, pastikan hanya mengakses situs dengan protokol HTTPS serta tidak menyimpan kata sandi secara otomatis di peramban.

Sementara itu, dilansir dari Trend Micro, penggunaan Virtual Private Network (VPN) dapat membantu mengenkripsi lalu lintas jaringan data sehingga lebih sulit disadap. Pengguna juga dianjurkan menonaktifkan fitur berbagi file (file sharing), mematikan koneksi otomatis ke jaringan terbuka, serta rutin memperbaharui sistem operasi dan aplikasi keamanan.

Laporan laman Aura menambahkan, aktivasi autentikasi dua faktor (2FA) menjadi langkah penting untuk mencegah pembobolan akun meski kata sandi diketahui pihak lain. Penggunaan kata sandi yang unik dan berbeda untuk setiap layanan juga direkomendasikan guna mengurangi dampak jika terjadi kebocoran data.

WiFi gratis di lingkungan publik memang menawarkan kemudahan instan, tetapi tidak boleh digunakan tanpa kesadaran risiko. Dengan memahami potensi ancaman serta menerapkan langkah perlindungan yang tepat, masyarakat dapat tetap produktif sekaligus menjaga keamanan data pribadi dan finansial di ruang digital. (RRI/Aldi W.)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....