SMKN 4 Mataram Jadi Pusat Upskilling Nasional
- 09 Feb 2026 08:59 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - SMKN 4 Mataram dipercaya menjadi pusat pelaksanaan program upskilling dan reskilling guru SMK dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini berlangsung mulai 25 Januari hingga 8 Februari 2026 dengan fokus pada kompetensi perhotelan dan Usaha Layanan Wisata (ULW).
Kepala Sekolah SMKN 4 Mataram, Iwan Supriady, menyampaikan bahwa penunjukan tersebut merupakan bentuk kepercayaan terhadap kesiapan sekolah dalam mengelola kolaborasi berbasis industri. Ia menegaskan program ini menjadi bagian dari penguatan link and match pendidikan vokasi.
“Kami dipercaya menjadi tempat belajar bagi guru-guru dari berbagai provinsi. Ini tanggung jawab besar untuk memastikan pelaksanaannya berkualitas,” katanya, Senin, 9 Februari 2026.
Iwan menjelaskan, pada kompetensi perhotelan tercatat 10 peserta yang berasal dari Bali, Jawa Timur, NTB, dan NTT. Sementara pada kompetensi ULW diikuti 14 peserta aktif dari sejumlah provinsi setelah beberapa peserta mengundurkan diri.
Menurutnya, seluruh peserta ditempatkan di mitra industri strategis seperti Hotel Aruna Senggigi, Merumata Senggigi, dan sejumlah biro perjalanan wisata. Penempatan tersebut dilakukan agar peserta memperoleh pengalaman langsung sesuai standar operasional industri.
Waka Humas SMKN 4 Mataram, Agus Faerussandi, menguatkan bahwa distribusi peserta telah diatur proporsional agar proses pendampingan lebih efektif. Setiap mitra industri menerima sekitar lima peserta untuk menjaga kualitas supervisi.
“Kami membagi peserta secara merata agar pembimbingan di industri lebih fokus dan maksimal,” jelasnya.
Agus menuturkan kegiatan diawali dengan penguatan industri melalui pertemuan daring bersama seluruh peserta nasional pada awal program. Setelah itu, peserta langsung menjalani praktik magang sejak 25 Januari 2026.
Ia menyebut selama hampir dua pekan peserta terlibat aktif dalam operasional hotel maupun layanan perjalanan wisata. Program magang tersebut berakhir pada 8 Februari 2026.
“Peserta tidak hanya observasi, tetapi benar-benar praktik sesuai bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Iwan menambahkan, setelah masa magang peserta mengikuti sertifikasi industri sebagai bentuk pengakuan kompetensi. Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa peserta telah memenuhi standar profesional yang ditetapkan mitra.
Ia menegaskan setiap peserta juga diwajibkan menyusun teaching project sebelum kembali ke daerah asal. Proyek tersebut menjadi implementasi langsung dari pengalaman industri ke dalam pembelajaran di sekolah masing-masing.
“Kami ingin pengalaman di industri itu diterjemahkan menjadi inovasi pembelajaran. Dengan begitu dampaknya tidak berhenti di sini,” ujarnya.
Agus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar berkat koordinasi intensif antara sekolah dan mitra industri. Ia menilai kolaborasi ini menjadi model penguatan vokasi yang terstruktur dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....