Tall Poppy Syndrom, Saat Kesuksesan Justru Dibenci
- 29 Okt 2025 12:49 WIB
- Mataram
KRBN.Mataram: "You cannot strengthen one by weakening another; and you cannot add to the stature of a dwarf by cutting off the leg of a giant.” Benjamin Franklin Fairless, sebuah kritik pedas yang dilontarkan Fairless, Presiden dari United States Steel Corporation dan dikutip oleh validnews.id, 23/09//2023. Kritik tersebut bermakna bahwa manusia tidak bisa menguatkan seseorang dengan melemahkan seorang yang lainnya, dan manusia tidak boleh menambah tinggi badan orang cebol/pendek dengan memotong kaki raksasa. Kritikan pedas ini disampaikan Fairless berkaitan dengan fenomena Tall Poppy Syndrom. Lalu apakah definisi dari syndrom ini? bagaimana ia bermula? berikut penjelasannya.
Baca juga Social Ghosting, Luka Sunyi dalam Pertemanan
Awal Mula Tall Poppy Syndrom
Dalam laman findanexpert.unimelb.edu.au, Tall poppies berawal dari kebun Raja Tarquin of The proud yang merupakan raja terakhir Roma, seorang tiran dari Roma kuno, yang ditulis oleh sejarawan Livy. Suatu ketika, utusan dari anaknya Sextus Tarquinius datang untuk meminta nasihat mengenai tanggung jawabnya sebagai penguasa tunggal di Gabii. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tarquin pergi ke kebunnya dan memenggal kepala semua bunga poppy yang paling tinggi dengan pedangnya. Sextus memahami tindakan itu sebagai isyarat untuk mengeliminasi aristokrat-aristokrat menonjol di kota tersebut, dan ia melakukannya demi mengukuhkan posisinya.
validnews.id juga menerangkan bahwa Tall Poppy Syndrome berasal dari konsep bahwa ketika bunga tertentu tumbuh lebih tinggi dari pada yang lain, bunga tersebut kemudian dipotong agar terlihat seragam dan semua bunga berada pada tingkat yang sama saat itu juga. Secara jelas, Tall Poppy syndrome terjadi ketika keberhasilan seseorang mengakibatkan mereka diserang,dibenci,atau dikritik.
Dalam konteks kekinian, Tall Poppy Syndrom merujuk pada keingin masyarakat atau seseorang untuk menjegal seseorang yang dianggap lebih sukses. Lebih lanjut medicalnewstoday menjelaskan bahwa Tall poppy syndrome merujuk pada fenomena di mana masyarakat mengkritik, menyerang atau membenci seseorang karena kesuskesannya. Hal ini kerap terjadi di tempat kerja dan dapat membahayakan kesejahteraan mereka yang mengalaminya.
Ildiko Laskay/ShutterstockPenyebab Tall Poppy Syndrom
Lalu apa yang memicu munculnya Tall Poppy Syndrome?
Terdapat beberapa faktor yang dapat membuat seseorang terjebak dalam Tall Poppy Syndrome ini, di antaranya adalah:
- Rasa iri: Psikiater Neel Burton menjelaskan bahwa rasa iri tidak hanya sebatas menginginkan apa yang dimiliki orang lain, seperti keterampilan, aset, atau pencapaian. Perasaan ini juga merupakan sebuah kesadaran yang menyakitkan tentang ketidakmampuan untuk memiliki sesuatu. Kecemburuan biasanya ditujukan kepada individu yang dibandingkan dengan diri kita, terlepas dari adanya kompetisi nyata antara kita dan mereka. Banyak orang mencoba menyembunyikan rasa irinya, yang berkaitan dengan rasa malu, yang bisa muncul melalui kritik atau sabotase yang tidak langsung.
- Rendahnya harga diri: Melihat kesuksesan orang lain dapat memicu perasaan inferioritas jika seseorang merasa tidak mampu mencapai tingkat pencapaian yang sama. Individu dengan harga diri yang baik biasanya akan berusaha meniru orang yang mempunyai apa yang mereka inginkan hingga mereka bisa mencapainya sendiri. Namun, bagi orang dengan Tall Poppy Syndrome, mereka cenderung lebih memperhatikan masalah harga diri mereka yang dinilai harus dipertahankan dengan menjatuhkan atau merendahkan orang lain.
- Kebencian: Kebencian muncul ketika perasaan yang menyakitkan tidak ditangani dengan baik, dan menyalahkan orang lain atas perasaan negatif tersebut. Kebencian bisa menciptakan pikiran negatif yang terus-menerus yang menguras banyak energi, tanpa menyelesaikan masalah yang ada.
- Ketakutan: Seseorang yang memiliki latar belakang trauma mungkin dengan mudah terpancing dalam perilaku defensif yang tidak disadari. Baik ketakutan itu rasional atau tidak, dampak psikologis yang ditimbulkan sangat nyata. Hal ini menyulitkan individu untuk mengakses bagian otak yang bertanggung jawab atas interaksi sosial yang kooperatif.
Baca juga Waspadai Krim Berbahaya, Kenali Ciri-Cirinya
Contoh Tindakan Tall Poppy Syndrom
Tall Poppy Syndrom dapat muncul di berbagai tempat dan pola yang bervarias. Ia dapat melibatkan pihak lain untuk mencoba menjatuhkan dan melemahkan kesuksesan seseorang dan termasuk orang-orang yang bertujuan negativ pada kesuksesan tinggi seseorang, di anataranya seperti:
- mengacuhkan, tidak melibatkan dan mendiamkan mereka
- mengolok-olok
- perundungan atau perundungan online
- melemahkan mereka di tempat kerja
- mengakui hasil karya mereka
- Mengkritik, memarahi, atau mendisiplinkan mereka secara tidak adil
- Memajaki atau meremehkan prestasi mereka
- bergosip tentang mereka
- menjadi secara terbuka memusuhi mereka
Pada akhirnya, Tall Poppy Syndrome adalah cerminan sejati dari sisi gelap perilaku manusia yang membuat sulit menerima kesuksesan orang lain. Alih-alih terinspirasi oleh kesuksesan orang lain, banyak orang yang memilih meruntuhkannya agar terlihat setara. Faktanya, seperti yang diingatkan oleh Benjamin Franklin Fairless, melemahkan orang lain tidak akan pernah membuat kita lebih kuat. Maka, sudah saatnya kita menumbuhkan budaya saling mendukung dan menghargai prestasi masing-masing tanpa menebarkan rasa iri dan benci. Kesuksesan seseorang seharusnya menjadi motivasi bagi orang lain untuk terus berkembang, bukan menjadi alasan untuk saling memotong bunga poppy yang sedang mekar.