Jepang Musnahkan 14.000 Beruang, Konflik dengan Manusia Belum Mereda

  • 30 Agt 2026 15:40 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Jepang kini menghadapi dilema antara melindungi keselamatan warga dan menjaga keberlangsungan populasi beruang hitam Asia. The Guardian mencatat, Jepang telah memusnahkan lebih dari 14.000 beruang sejak April 2025 hingga Januari 2026.

Kebijakan ini dilakukan setelah terjadi peningkatan jumlah serangan beruang terhadap manusia di Jepang. Tetapi, kebijakan tersebut belum sepenuhnya meredam konflik.

Lebih dari 230 orang diserang beruang di Jepang sepanjang 2025 dan 13 orang meninggal dunia. Angka tersebut menjadi jumlah korban jiwa tertinggi akibat serangan beruang yang pernah tercatat di negara itu.

Pemusnahan dilakukan dalam skala besar setelah pemerintah melonggarkan aturan penembakan beruang di kawasan berpenduduk. Data pemerintah menunjukkan sekitar 12.000 beruang hitam Asia dan 2.000 beruang cokelat dimusnahkan sejak April 2025 hingga Januari 2026.

Namun, konflik belum berhenti. Sejak April 2026, sedikitnya enam orang kembali tewas dan lebih dari 35 lainnya diserang beruang di sedikitnya sembilan prefektur Jepang, termasuk wilayah yang berada relatif dekat dengan Tokyo.

Kebijakan tersebut memicu kritik kelompok konservasi. Yuko Muroya, Ketua Japan Bear and Forest Society atau Kumamori, memperingatkan bahwa pemusnahan dalam skala besar dapat mengancam populasi beruang secara lokal.

“Jika tingkat penangkapan ini terus berlanjut, kami menilai kepunahan secara lokal benar-benar mungkin terjadi. Kami merasakan krisis yang sangat serius,” kata Muroya, seperti dikutip The Guardian.

Salah satu wilayah yang memilih pendekatan berbeda adalah Karuizawa di Prefektur Nagano. Kota wisata yang berjarak sekitar satu jam perjalanan kereta cepat dari Tokyo itu menggunakan pendekatan pengelolaan beruang yang menekankan pencegahan, pengusiran dan relokasi.

Kelompok konservasi Picchio telah menangani konflik manusia dan beruang di Karuizawa sejak dekade 1990-an. Tim tersebut menggunakan anjing jenis Karelian untuk mengusir beruang dari permukiman dan, jika diperlukan, membius serta memindahkannya ke kawasan hutan.

Tim Picchio telah menangkap 19 beruang dan merespons lebih dari 130 laporan penampakan maupun insiden sepanjang tahun ini. Jumlah laporan meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski tidak terjadi peningkatan kerusakan akibat beruang.

Meningkatnya konflik tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya populasi beruang. Perubahan iklim turut mengurangi ketersediaan makanan alami di hutan, sementara menyusutnya populasi masyarakat pedesaan membuat banyak kebun dan lahan pertanian terbengkalai.

Kondisi tersebut mendorong beruang semakin sering turun dari habitatnya untuk mencari makanan. Peneliti mencatat penurunan produksi biji pohon beech dan ek, kerusakan biji akibat serangga serta berkurangnya serangga penyerbuk yang berdampak pada ketersediaan buah-buahan di hutan.

Pakar beruang dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), Dave Garshelis, mengatakan kebijakan pemusnahan dalam skala besar juga perlu dilihat dari ketepatan data populasi. Jepang belum memiliki survei nasional terbaru yang dapat memastikan jumlah beruang secara akurat.

“Ini adalah reaksi besar. Saya pikir pemerintah Jepang merasa harus menyingkirkan beruang-beruang ini,” ujar Garshelis, dikutip The Guardian.

Jepang diperkirakan memiliki sekitar 42.000 beruang hitam Asia, meski jumlah tersebut masih diperdebatkan. Pemerintah Jepang tahun ini memulai survei populasi beruang secara nasional yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.

Konflik tersebut menjadi ironi dari keberhasilan konservasi Jepang. Sejak dekade 1970-an, beruang hitam Asia kembali menempati sejumlah wilayah yang sebelumnya ditinggalkan, sementara perubahan penggunaan lahan membuat kawasan hutan meluas dan habitat beruang semakin terhubung.

Para pemerhati lingkungan kini mendorong pemerintah mengurangi ketergantungan pada pemusnahan. Pengelolaan kebun terbengkalai, pemasangan pagar, penghilangan sumber makanan dari sekitar rumah, penanaman pohon penghasil makanan serta pengusiran beruang dinilai dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Biolog Amerika Geoff York mengatakan sejumlah negara telah belajar dari pendekatan berburu yang dinilai tidak efektif untuk mengurangi konflik dalam jangka panjang. Menurutnya, pengelolaan satwa seharusnya lebih diarahkan pada pencegahan dan penanganan beruang yang benar-benar bermasalah.

“Dari perspektif kami di Amerika Utara, pendekatan itu terlihat sangat kuno. Kami pernah melakukannya dan menyadari bahwa cara tersebut tidak berhasil,” kata York, seperti dikutip The Guardian.

Pengalaman Karuizawa menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Picchio menyebut tidak ada serangan beruang terhadap warga di kawasan pedesaan dan permukiman sekitar Karuizawa sejak 2015, meski penampakan beruang masih terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....