Mahasiswa Asing Akui Lombok Penuh Nilai Kemanusiaan

  • 04 Nov 2025 08:08 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Tiga mahasiswa asing peserta program pertukaran pelajar di Lombok mengaku terkesan dengan budaya, keramahan, dan nilai kemanusiaan masyarakat setempat. Bagi mereka, pengalaman belajar di Lombok bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan perjalanan memahami kearifan lokal yang sarat makna sosial dan empati.

Elsa Van Dongen, mahasiswa keperawatan dari Hogeschool Utrecht, Belanda, mengatakan bahwa kehidupan masyarakat Lombok berbeda jauh dari negaranya. Elsa menilai semangat gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat Lombok menjadi pengalaman berharga baginya.

"Saya merasa Lombok sangat berbeda dengan Belanda. Di sini masyarakatnya lebih hangat dan hidup dalam kebersamaan, sedangkan di Belanda lebih individualistis. Di Lombok ini rasanya seperti hidup dalam komunitas yang saling menjaga” ujarnya, Selasa (4/11/2025).

Sementara itu, Maxim Jun Reins, mahasiswa asal Belanda jurusan Skin Therapy dari Universitas yang sama dengan Elsa mengaku mendapat banyak pelajaran dari praktik kesehatan di Lombok.

“Kami sering melakukan fisioterapi sederhana bersama para lansia untuk menjaga tekanan darah dan kebugaran mereka,” tuturnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya praktik medis, tetapi juga kesempatan memahami hubungan antara budaya dan pelayanan kesehatan. “Melalui interaksi ini, kami belajar bagaimana budaya memengaruhi pendekatan terhadap kesehatan,” jelas Maxim.

Pengalaman serupa juga dirasakan Hannah Maria Schlupp mahasiswi asal Jerman dari Ostbayerische Technische Hochschule Regensburg. Ia mengaku kagum dengan keramahan masyarakat Lombok yang selalu terbuka kepada pendatang.

“Orang-orang di sini sangat ramah. Walau tidak semua bisa berbahasa Inggris, mereka menunjukkan keramahan lewat ekspresi dan gerak tubuh,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sikap terbuka masyarakat membuatnya mudah beradaptasi. “Kalau di Jerman, orang cenderung tertutup. Tapi di sini, semua terasa hangat sejak pertemuan pertama,” katanya.

Ketiganya mengikuti program magang di Yayasan Gentle Care Foundation yang bekerja sama dengan universitas lokal di Lombok. Selain membantu pelayanan kesehatan bagi lansia dan anak-anak, mereka juga turut mengajarkan bahasa Inggris dasar kepada masyarakat sekitar.

Elsa menegaskan bahwa pengalaman di Lombok akan menjadi bekal penting untuk kariernya di bidang kesehatan.

“Saya belajar memahami pentingnya budaya dalam pelayanan kesehatan. Pengalaman ini akan saya bawa ke rumah sakit tempat saya bekerja nanti,” ujarnya.

Maxim menambahkan, pengalaman di Lombok memberinya pandangan baru tentang nilai kemanusiaan. “Kami harus mempresentasikan hasil pembelajaran ini di universitas. Ini bukan sekadar magang, tapi pengalaman hidup,” tegasnya.

Bagi para mahasiswa asing ini, Lombok bukan hanya destinasi belajar, tetapi juga ruang interaksi lintas budaya yang mempertemukan ilmu, empati, dan kemanusiaan. Mereka berharap pengalaman ini menjadi jembatan pemahaman antarnegara, khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....