Desa Teniga Cetak Nol Pernikahan Anak, Pemda KLU Beri Apresiasi

  • 31 Mar 2026 16:51 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara – Upaya pencegahan perkawinan anak di Kabupaten Lombok Utara (KLU) menunjukkan hasil menggembirakan. Di tengah masih tingginya angka pernikahan dini di sejumlah wilayah, Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, justru berhasil mencatatkan nol kasus, sebuah capaian yang mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.

Keberhasilan tersebut dinilai menjadi contoh nyata bahwa pendekatan edukatif yang dilakukan secara konsisten mampu menekan praktik perkawinan anak hingga ke titik nol. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara pun mendorong desa-desa lain untuk mereplikasi langkah serupa.

Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, mengatakan capaian Desa Teniga membuktikan bahwa pencegahan perkawinan anak dapat dilakukan secara efektif jika melibatkan seluruh elemen masyarakat.

"Meski ada desa yang sudah berhasil, upaya pencegahan secara menyeluruh tetap harus diperkuat di seluruh wilayah KLU," jelasnya Jumat 27 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa persoalan perkawinan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, mulai dari keluarga hingga lembaga sosial di tingkat desa.

Sementara itu, Kepala Desa Teniga, Muhammad Yusup, mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor yang dibangun secara berkelanjutan. Pemerintah desa secara aktif menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi kepemudaan dalam mengedukasi warga.

Menurutnya, sejumlah lembaga lokal memiliki peran strategis dalam menekan angka perkawinan anak. Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Karang Taruna, Ikatan Mahasiswa Desa Teniga, hingga Forum Komunikasi Anak menjadi garda terdepan dalam menyampaikan edukasi, baik dari sisi sosial maupun akademik.

Ia menjelaskan, kunci utama keberhasilan terletak pada konsistensi penyampaian pesan kepada masyarakat. Setiap pertemuan warga, tanpa terkecuali, selalu dimanfaatkan sebagai ruang sosialisasi terkait risiko dan dampak negatif pernikahan dini.

Pendekatan ini perlahan membangun kesadaran kolektif masyarakat. Warga mulai memahami pentingnya pendidikan, kesehatan, serta kesiapan mental sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Hasilnya, kesadaran tersebut tumbuh kuat di tengah masyarakat dan berdampak langsung pada menurunnya praktik perkawinan anak hingga akhirnya mencapai nol kasus.

Pemerintah daerah berharap capaian Desa Teniga dapat menjadi model praktik baik (best practice) bagi desa lain di Lombok Utara. Dengan memperkuat edukasi dan kolaborasi lintas sektor, target penurunan angka perkawinan anak secara menyeluruh di KLU dinilai bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....