Inflasi Sulit Dikendalikan, Legislatif Pertanyakan Kinerja BI NTB
- 28 Apr 2026 16:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram— Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyoroti laju inflasi daerah yang dalam dua bulan terakhir tercatat lebih tinggi dibandingkan angka nasional. DPRD meminta Bank Indonesia (BI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB segera memperkuat langkah konkret untuk menekan kenaikan harga.
Wakil Ketua DPRD NTB, Lalu Wirajaya, menegaskan bahwa inflasi yang tinggi berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Karena itu, menurutnya, diperlukan kebijakan yang terukur dan tepat sasaran di lapangan.
“Kami berharap BI dan TPID segera melakukan upaya pengendalian yang terukur supaya inflasi di NTB tidak melampaui nasional. Beban kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya, Selasa 28 April 2026.
Wirajaya yang juga politisi Partai Gerindra menilai pengendalian inflasi dapat diperkuat dengan mengadopsi strategi dari daerah lain yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga. Ia mendorong adanya studi komparasi agar program yang efektif bisa diterapkan di NTB.
“Kita perlu belajar dari daerah lain yang berhasil. Program yang baik bisa disesuaikan dengan kondisi NTB,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa BI dan TPID NTB sebelumnya telah memiliki sejumlah program pengendalian inflasi yang terbukti berjalan. Program-program tersebut diharapkan dapat dilanjutkan dan dikembangkan dengan inovasi baru.
Beberapa program yang telah dijalankan antara lain TANCABKAN GAS (Tanam Cabai Kendalikan Harga), operasi pasar murah, kerja sama antar daerah, pengembangan agribisnis terpadu, serta gerakan menanam tanaman pangan cepat panen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year/yoy) NTB pada Maret 2026 mencapai 4,09 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 3,48 persen. Pada Februari 2026, inflasi NTB bahkan tercatat 5,37 persen (yoy), juga melampaui angka nasional sebesar 4,76 persen.
Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi NTB pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,81 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan meliputi emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, kubis, dan sigaret kretek mesin. Sementara secara bulanan, inflasi didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, kubis, dan daging ayam ras.
Meski demikian, Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan keempat April 2026 tercatat minus 1,81 persen, dipengaruhi oleh penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi.
Dalam laporan perekonomian daerah, BI memperkirakan tekanan inflasi di NTB masih akan berlanjut sepanjang 2026. Peningkatan permintaan pangan serta volatilitas harga komoditas global menjadi faktor pendorong utama.
Kendati demikian, inflasi diproyeksikan tetap dalam kondisi terkendali melalui penguatan sinergi antara BI dan TPID, termasuk lewat program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....