Kemenhaj Lobar Siapkan Pengganti Jamaah Haji Wafat untuk Kuota Tetap Penuh

  • 22 Apr 2026 17:01 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Kabar duka menyelimuti proses pemberangkatan jamaah haji asal Lombok Barat. Sebanyak empat calon jamaah dilaporkan meninggal dunia sebelum keberangkatan, meninggalkan dinamika tersendiri dalam pengisian kuota, termasuk satu kursi kosong di kloter tiga.

Salah satu jamaah yang wafat berasal dari Kecamatan Gunungsari, atas nama Sa’ah Jamirah, berusia sekitar 55 tahun. Ia tergabung dalam rombongan dua. Namun, hingga saat ini, pihak keluarga memutuskan tidak menunjuk pengganti untuk melanjutkan keberangkatan haji tersebut.

“Jamaah kami yang meninggal ini dari Gunungsari atas nama Pak Sa’ah Jamirah, usia sekitar lima puluh lima tahun. Keluarga setelah musyawarah tidak ada yang mau untuk melimpahkan atau mengganti keberangkatannya, sehingga seat di kloter tiga itu kosong,” ujar Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Lombok Barat, H. Suparlan saat ditemui RRI di Kantornya, Gerung, Lombok Barat, Rabu 22 April 2026.

Pihak Kementerian Haji dan Umroh Lombok Barat kini berupaya mengantisipasi kekosongan tersebut dengan kemungkinan menggeser jamaah cadangan dari kloter lain. Langkah ini dilakukan agar kuota pemberangkatan tetap optimal.

“Ya mudah-mudahan nanti kami bisa menggeser jamaah cadangan yang tercecer tadi, yang tiga orang yang ada di kloter empat, tujuh dan empat belas itu bisa kita geser salah satunya ke kloter tiga sehingga jumlah jamaah yang berangkat dari Lombok Barat itu full tiga ratus delapan puluh tujuh jamaah atau dengan petugasnya tiga ratus sembilan puluh tiga,” katanya.

Meski demikian, proses penggantian tidaklah sederhana. Hal ini berkaitan erat dengan manifest penerbangan serta data jamaah yang telah masuk dalam sistem, baik di maskapai maupun otoritas terkait.

“Belum ada penggantinya kalau yang Sa’ah, tapi kami sudah siapkan. Apakah bisa nanti, karena ini kaitannya dengan manifest penerbangan. Kalau Garuda memberikan akses atau di kedutaannya boleh menerima lagi, karena data ini sudah diterima di situ. Kalau ada orang lain yang muncul lagi kan susah juga,” ujarnya menegaskan.

Ia menambahkan, kepastian penggantian baru bisa diketahui setelah seluruh jamaah melakukan check-in di asrama haji. Proses ini menjadi penentu apakah kursi kosong masih bisa diisi atau tidak.

“Insyaallah setelah jamaah sudah check in di asrama haji baru kita bisa pastikan boleh tidaknya diganti,” ucapnya.

Terkait pelaksanaan badal haji, pihak kantor menegaskan bahwa untuk jamaah yang meninggal sebelum masuk asrama haji, tanggung jawab badal sepenuhnya berada di pihak keluarga.

“Kalau jamaah meninggal sebelum masuk asrama haji, maka keluarga yang membadalkan sendiri. Bukan dari kantor. Berbeda kalau meninggal di embarkasi atau di dalam pesawat, itu baru dibadalkan oleh petugas,” katanya mengakhiri.

Dari total empat jamaah yang wafat, tiga di antaranya telah memiliki pengganti dari pihak keluarga. Mereka adalah Murti dari Lingsar (63 tahun), Rumasih Tasih dari Lingsar (85 tahun), dan Syafi’i dari Gerung (70 tahun). Sementara Sa’ah Jamirah menjadi satu-satunya jamaah yang belum memiliki pengganti.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perjalanan ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik dan mental, tetapi juga kesiapan administratif serta dukungan keluarga dalam menghadapi berbagai kemungkinan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....