Ampenan ke Tanah Suci, Kisah Haji di Lautan

  • 31 Mei 2025 23:01 WIB
  •  Mataram

KBRN.Mataram: Bayangkan: Anda mengucapkan salam perpisahan di pelabuhan, menaiki perahu kecil di tengah malam, kemudian terapung selama berbulan-bulan di lautan lepas. Di kapal, tak ada AC, tak ada katering, hanya doa dan logistik seadanya. Inilah potret perjalanan haji zaman dulu dari Ampenan—bukan hanya ibadah, tapi petualangan jiwa yang mendalam.

Bagi Hj. Mardiah, jemaah haji asal Lombok, kenangan berhaji di era 1970-an adalah potongan sejarah yang tak terlupakan. "Dulu perjalanan bisa sampai enam bulan. Satu bulan di Mekah, sisanya di kapal laut," tuturnya. Saat itu, kapal besar seperti Gunung Jati hanya bisa berlabuh jauh dari daratan, sementara jemaah harus menempuh lautan dengan perahu kecil dari Pelabuhan Ampenan.

Proses naik ke kapal besar menjadi momen haru penuh doa. “Kami disambut ombak dan air mata. Keluarga melepas kami dari pantai, tangis pecah di mana-mana,” kenang Hj. Mardiah. Bagi mereka, perjalanan ini bukan hanya ibadah, tetapi pengorbanan fisik dan emosional yang luar biasa.

Perbekalan pun disiapkan sendiri dari rumah: beras, lauk-pauk matang, kelapa, kopi, hingga gerobak logistik. Tanpa layanan katering atau fasilitas seperti sekarang, jemaah saling berbagi makanan dan bantuan selama berbulan-bulan dalam kapal. "Kami tidur berdesakan, berbagi ruang, dan tetap semangat beribadah di tengah laut," imbuhnya.

Kisah ini menunjukkan bahwa semangat berhaji kala itu begitu kuat, meski harus menempuh risiko besar di perjalanan. Para jemaah membawa serta harapan keluarga dan kampung halaman, menjadikan ibadah haji sebagai tonggak kehidupan yang sangat berarti.

Kini, Pelabuhan Ampenan telah beralih fungsi. Namun berkat inisiatif masyarakat dan Pokdarwis setempat, kisah seperti ini terus hidup, memperkaya narasi sejarah Lombok dan memperkuat identitas budaya Islam di Nusantara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....