Kemenag Terapkan Murur dan Tanazul, Ini Dasar Hukumnya

  • 30 Mei 2025 20:39 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Kementerian Agama (Kemenag) melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kembali menerapkan skema "murur" dan "tanazul" dalam pelaksanaan ibadah haji 1446 H/2025 M. Kedua skema ini diterapkan sebagai solusi untuk mengurai kepadatan serta memberikan perlindungan lebih bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan kelompok rentan.

Murur adalah skema di mana jemaah dari Arafah langsung menuju Mina dengan bus, hanya melewati Muzdalifah tanpa turun untuk bermalam (mabit). Sementara tanazul adalah mekanisme pemulangan lebih awal ke hotel di Makkah setelah selesai melontar jumrah di Mina, tanpa harus kembali ke tenda untuk bermalam di sana.

Kedua skema ini telah digunakan dalam penyelenggaraan haji sebelumnya dan dinilai efektif mengurangi kepadatan, serta tetap memenuhi ketentuan fikih.

Musytasyar Dini PPIH Arab Saudi, KH M. Ulinnuha, menjelaskan bahwa secara fikih, "mabit" di Muzdalifah memang termasuk dalam bagian wajib haji. Namun, dalam kondisi tertentu seperti lansia, disabilitas, atau uzur syar’i lainnya, murur dibolehkan.

“Dalam sejumlah riwayat sahih, Nabi Muhammad SAW memberi keringanan bagi sahabat yang uzur, perempuan yang khawatir mengalami haid, dan mereka yang bertugas untuk tidak bermalam di Muzdalifah,” jelas KH Ulinnuha, Jumat (30/5/2025) dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Mazhab Hanafi, "mabit" di Muzdalifah hukumnya sunnah. Oleh karena itu, murur dibolehkan, ibadah hajinya tetap sah, dan tidak dikenakan dam. Sekitar 50.000 jemaah haji tahun ini termasuk kelompok yang akan mengikuti skema murur.

Setelah mabit di Muzdalifah, jemaah biasanya bermalam di Mina untuk melontar jumrah. Namun, dengan skema tanazul, sebagian jemaah akan langsung kembali ke hotel di Makkah setelah melontar jumrah aqabah.

“Skema ini juga berdasarkan pendapat Mazhab Hanafi yang menyatakan bahwa mabit di Mina hukumnya sunnah. Maka tidak bermalam di Mina bukan pelanggaran dan tidak membatalkan haji,” ungkap KH Ulinnuha.

Sekitar 30.000 jemaah, khususnya dari sektor Syisyah dan Raudhah, dijadwalkan mengikuti skema tanazul. Mereka akan kembali ke hotel masing-masing setelah melontar jumrah pada tanggal 11, 12, atau 13 Zulhijjah.

KH Ulinnuha mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kekhusyukan, niat, serta kesehatan selama menjalani rangkaian ibadah haji.

“Semoga semua rangkaian ibadah haji tahun ini berjalan lancar. Mari kita jaga niat, kesehatan, dan kekhusyukan, serta memohon kepada Allah agar dikaruniai haji yang mabrur,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....