Sulitnya Warga Miskin Nikmati Beras Murah Pemerintah
- 12 Sep 2023 15:12 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram : Pemerintah mulai merespon banyaknya keluhan Masyarakat tentang lonjakan harga beras dalam satu bulan terakhir sebagai dampak dari El Nino. Selain memberikan bantuan pangan kepada keluarga penerima manfaat, pemerintah juga mengalokasikan beras Bulog untuk dijual dipasaran dengan harga relatif lebih murah dibandingkan harga pasaran saat ini.
Harga jual beras yang disebut beras SPHP atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan ini rupanya diburu oleh masyarakat. Pasalnya beras medium itu harga eceran tertingginya sebesar 10.900 perkilogram jauh lebih murah dari harga pasaran dengan kualitas beras yang sama pada kisaran terendah 12 ribu 500 rupiah perkilogram. Namun, memperoleh beras murah tersebut nampaknya tidak semudah yang dibayangkan, dan bahkan hanya mimpi belaka.
Reporter RRI Mataram melakukan penelusuran disejumlah pasar yang menjadi mitra Bulog untuk meyebarluaskan beras SPHP tersebut, salah satunya di pasar kebon roek ampenan Kota Mataram. Di pasar ini, terdapat 20 pedagang yang menjadi mitra untuk menjual beras SPHP dengan rata-rata pedagang mendapat jatah 2 ton setiap minggunya.
Mereka diharapkan bisa memenuhi kebutuhan konsumen ekonomi rendah dengan harga yang layak. Namun beberapa konsumen yang enggan disebutkan namanya membeberkan ulah oknum pedagang dalam memasarkan beras SPHP.
Harga eceran tertinggi yang berlaku, hanya pada waktu satuan tugas atau satgas pangan melakukan pengawasan pasar atau ketika Bulog melakukan pendistribusian. Setelahnya, berlaku hukum pasar.
”hanya mereka yang punya uang banyak yang bisa membeli ini, coba dijual bebas tidak melalui perantara dijual beras ini maka akan tepat sasaran,” kata salah seorang konsumen yang enggan disebutkan namanya di pasar Kebon Roek Ampenan.
Konsumen lainnya terpaksa harus membeli beras dengan harga relatif lebih mahal, karena sudah mengetahui bahwa beras SPHP dijual lebih mahal dari harga eceran tertingginya. Apalagi beberapa saudagar beras di Pasar Kebon Roek ampenan memberikan kemudahan konsumen untuk berhutang dalam tempo yang sudah disepakati, meski harganya cukup tinggi.
”kalau saya beli sama pak haji ini, harganya mahal memang Cuma bisa berhutang. Kalau beras itu kami tidak bisa beli,” ungkap konsumen lainnya.
Tim Liputan RRI Mataram juga menelusuri cara oknum pedagang mempermainkan harga beras SPHP. Sumiati salah seorang tukang panggul menuturkan, jika para pedagang yang menjadi mitra bulog lebih memilih menjual beras tersebut kepada pedagang kecil lainnya dengan harga sedikit lebih mahal yakni sebesar 57 ribu rupiah perkarung isi 5 kilogram. Akibatnya, masyarakat kecil yang seharusnya memperoleh beras dengan harga eceran tertinggi pemerintah justru memperoleh harga yang sesuai kehendak pelaku pasar.
”Maksud saya ini kan dijual lagi ke pedagang-pedagang didalam dibuka lagi untuk diecer, ada yang jual 12 ribu ada juga yang jual 12.500 perkilogram, itu saya tau karena saya memang yang bawa berasnya,” kata Sumiati.
Cara oknum pedagang mempermainkan harga beras SPHP nampaknya memberikan keuntungan berlipat. Hitung saja, jika harga jual bulog ditingkat gudang sebesar 9.950 perkilogram, sementara HET sebesar 10.900, para pedagang sudah mengumpulkan keuntungan seribu 50 rupiah perkilogram atau sekitar 1 juta 50 ribu rupiah per ton dalam satu kali penyaluran.
Belum lagi, jika pedagang mempermainkan harga dengan menjual lebih mahal, yakni pada kisaran 12.500 rupiah perkilogram. Para pedagang pedagang akan mendapat keuntungan tambahan yang jauh lebih besar yakni 1.600 rupiah perkilogram atau sekitar 1,6 juta perton dalam satu kali penyaluran.
Jika ditotal, setiap pedagang rata-rata memperoleh keuntungan 2,5 juta rupiah perton. Sementara, jatah mereka setiap bulannya, rata-rata sebanyak 8 ton dengan proryeksi pendapatan 20 juta rupiah perbulan. Angka yang tidak sedikit bagi oknum pedagang yang bermain dibalik murahnya beras SPHP.
Para pedagang yang dikonfirmasi memang tidak ada yang membenarkan data tersebut. Dengan wajah serius, salah seorang pedagang yang menjadi mitra bulog menegaskan, jika harga jual beras tersebut selalu mengacu pada HET Pemerintah. Mereka juga berkewajiban membatasi setiap konsumen untuk membeli beras dengan jumlah banyak untuk menghindari penimbunan atau untuk dijual kembali.
”banyak yang berminat karena selain kualitasnya bagus harganya juga murah, kalau kita tidak batasi ini 2 jam saja habis. Ndak berani kita jual diatas harga itu dung ndak dikasi kita jual lagi,” kata salah seorang pedagang yang menjadi mitra bulog di pasar Kebon Roek Ampenan.
Penegasan yang sama juga disampaikan kepala pasar Kebon Roek Malwi. Dia mengkelaim, tidak ada pedagang yang berani mempermainkan harga beras SPHP. Jika itu dilakukan, pengelola pasar berhak merekomendasikan pedagang tersebut tidak lagi memperoleh jatah beras SPHP untuk dijual.
”ya kami pantau terus ini, ada sanksi hukum ini kalau dijual diatas harga HET. Ya namanya masyarakat ini kan tidak bisa membeli banyak jadi beli satu atau dua kilo jadi ya dibuka beras itu,” kata Malwi.
Pimpinan Wilayah Bulog David Susanto NTB juga dengan tegas akan menyetop distribusi beras melalui pedagang yang berani menjual beras SPHP dengan harga diatas harga eceran tertinggi pemerintah. Apalagi tujuan dari keberadaan beras tersebut adalah untuk membantu masyarakat memperoleh beras dengan harga relatif murah ditengah tingginya harga komoditas tersebut.
”kita itu kan sudah tim, pemantauan itu dilakukan beberapa instansi. Beraspun kita antar biar tahu tokonya mana. Kalau ada pedagang yang masih main-main menjual beras tidak sesuai ketentuan, berasnya kita akan stop,” tegas David.
Apapun alasannya, satgas pangan harus memperlihatkan tajinya mengatasi permasalahan tersebut, jika tidak ingin masyarakat kecil hanya menjadi penonton dibalik kemakmuran segelintir orang yang memanfaatkan momentum.