Mengenal Jenis-Jenis Lari Berdasarkan Intensitas dan Tujuannya

  • 30 Agt 2026 05:52 WIB
  •  Mataram

RRI CO.ID, Mataram - Lari bukan hanya soal berlari secepat mungkin. Dalam latihan lari, ada berbagai jenis sesi yang memiliki tujuan berbeda, mulai dari membangun daya tahan, membantu tubuh pulih, hingga meningkatkan kecepatan. Mengenali jenis-jenis lari ini penting agar latihan lebih terarah dan tubuh mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Beberapa jenis lari yang umum dilakukan:

1. Recovery Run

Recovery Run adalah lari dengan intensitas sangat ringan yang bertujuan membantu tubuh melakukan pemulihan setelah latihan yang lebih berat. Biasanya dilakukan dengan tempo yang nyaman, sehingga pelari masih dapat berbicara tanpa terlalu terengah-engah. Durasi umumnya sekitar 20–40 menit, tergantung kondisi dan pengalaman pelari. Recovery run cocok dilakukan sehari setelah latihan berat atau ketika tubuh masih terasa lelah.

2. Easy Run

Easy Run merupakan lari santai dengan intensitas ringan. Fokus utamanya bukan kecepatan, melainkan membangun dan mempertahankan daya tahan tubuh. Durasi easy run bisa sekitar 30–60 menit. Patokan sederhananya adalah pelari masih bisa berbicara dalam kalimat lengkap selama berlari. Easy run justru menjadi salah satu bagian penting dalam program latihan karena sebagian besar latihan lari biasanya dilakukan dengan intensitas ringan.

3. Long Run

Long Run adalah sesi lari dengan durasi atau jarak lebih panjang dibandingkan easy run. Tujuannya meningkatkan daya tahan tubuh dan membiasakan tubuh berlari dalam waktu yang lebih lama. Durasi dapat berkisar 60–120 menit atau lebih, tergantung target dan tingkat kemampuan pelari. Intensitasnya biasanya tetap ringan dan terkendali.

4. Tempo Run

Tempo Run dilakukan dengan intensitas sedang hingga cukup tinggi, tetapi bukan sprint. Tujuannya melatih kemampuan tubuh mempertahankan kecepatan dalam waktu tertentu. Sesi tempo biasanya dapat berlangsung sekitar 20–40 menit pada bagian utama latihan, dengan pemanasan dan pendinginan sebelum serta sesudahnya. Pada intensitas ini, berbicara masih memungkinkan, tetapi tidak senyaman ketika melakukan easy run.

5. Interval Run

Interval Run merupakan latihan yang mengombinasikan lari berintensitas tinggi dengan periode pemulihan. Misalnya, berlari cepat selama 1–4 menit, kemudian dilanjutkan dengan jogging atau berjalan untuk pemulihan sebelum mengulangi interval berikutnya. Jumlah pengulangan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan program latihan. Karena intensitasnya tinggi, interval run membutuhkan pemanasan yang cukup dan tidak perlu dilakukan setiap hari.

6. Fartlek

Fartlek berasal dari bahasa Swedia yang berarti “permainan kecepatan”. Dalam latihan ini, pelari berganti-ganti kecepatan secara lebih fleksibel, misalnya beberapa menit berlari santai kemudian mempercepat tempo selama satu menit, lalu kembali santai. Berbeda dengan interval yang biasanya memiliki struktur lebih teratur, fartlek cenderung lebih bebas dan dapat disesuaikan dengan kondisi serta medan.

7. Hill Run

Hill Run adalah latihan lari yang dilakukan di tanjakan. Latihan ini dapat membantu meningkatkan kekuatan kaki dan kemampuan berlari menghadapi perubahan elevasi. Intensitasnya bisa bervariasi, tetapi karena tanjakan memberikan beban lebih besar pada tubuh, pelari perlu menyesuaikan durasi dan jumlah pengulangan dengan kemampuan.

Untuk mengatur jadwal latihan, setiap jenis lari bisa dilaksanakan berbeda-beda perhari selama seminggu, atau minimal 2x seminggu. Yang terpenting, latihan berat perlu diimbangi dengan hari pemulihan. Kecepatan, jarak, dan durasi juga sebaiknya ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.

Jadi, lari yang baik bukan selalu tentang siapa yang paling cepat. Memilih jenis latihan yang tepat sesuai tujuan dan memberikan tubuh waktu untuk pulih juga merupakan bagian penting dari menjadi pelari yang konsisten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....