Mengapa Parfum Tercium Berbeda di Setiap Orang?
- 30 Des 2025 08:49 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Parfum kerap dipersepsikan sebagai identitas personal. Namun, menariknya, satu jenis parfum yang sama dapat menghadirkan aroma berbeda ketika dikenakan oleh orang yang berlainan. Fenomena ini bukan sekadar persepsi subjektif, melainkan memiliki penjelasan ilmiah yang erat kaitannya dengan kondisi biologis dan lingkungan tubuh manusia.
Pertama, faktor kimia kulit memegang peranan penting. Kelenjar keringat dan minyak alami (sebum) menghasilkan komposisi kimia unik pada setiap individu. Menurut penjelasan edukatif dari U.S. Food and Drug Administration (FDA), interaksi antara senyawa parfum dan minyak alami kulit dapat mengubah karakter aroma yang tercium, baik menjadi lebih lembut, tajam, maupun cepat menguap.
Selain itu, pH kulit turut memengaruhi performa parfum. Kulit dengan tingkat keasaman berbeda akan merespons molekul parfum secara tidak sama. Akibatnya, aroma yang semula manis bisa terasa lebih segar, atau sebaliknya, menjadi lebih hangat dan intens. Penjelasan serupa juga disampaikan dalam kanal edukasi sains dan kesehatan seperti TED-Ed dan BBC Reel, yang kerap mengulas hubungan antara tubuh manusia dan respons sensorik.
Lebih jauh, suhu tubuh dan aktivitas harian berkontribusi terhadap difusi aroma. Seseorang dengan metabolisme tinggi cenderung membuat parfum lebih cepat “berkembang” karena panas tubuh membantu pelepasan molekul aroma ke udara. Di sisi lain, kondisi lingkungan seperti kelembapan dan suhu udara juga memengaruhi daya tahan parfum.
Dengan demikian, parfum sejatinya tidak hanya soal wangi dalam botol, tetapi juga tentang bagaimana tubuh seseorang menjadi medium alami yang menghidupkan aroma tersebut. Oleh karena itu, memilih parfum sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren, melainkan juga kecocokan dengan karakter tubuh masing-masing. (RRI/Irene Dyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....