Sanggar Utas, Komunitas Rajut Ruang Belajar dan Inovasi!
- 16 Mei 2025 21:29 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram : Dalam acara Sore Ceria yang disiarkan Pro 2 RRI Mataram, Baiq Febriana Lylia Faradisa, Koordinator Sanggar Utas yang akrab disapa Lia, berbagi cerita tentang perjalanan komunitas rajut yang terbentuk sejak tahun 2023. Sanggar Utas, komunitas yang berbasis di Kota Mataram, NTB, hadir sebagai ruang belajar bersama, tempat berbagi ilmu, dan wadah untuk terus berkarya melalui seni merajut.
Komunitas ini dibentuk dari semangat untuk menciptakan ruang yang inklusif bagi siapa saja yang ingin belajar dan tumbuh bersama. “Kami ingin menciptakan ruang yang inklusif, di mana setiap orang bisa belajar, berkembang, dan menemukan kekuatannya masing-masing melalui rajutan,” ungkap Lia.
Sanggar Utas memiliki anggota dari berbagai latar belakang, usia, dan minat. Ada yang fokus pada fashion dan aksesori, ada yang mendalami boneka rajut mini (amigurumi), dan ada pula yang mengembangkan produk rumah tangga seperti tatakan gelas, tas belanja, hingga pouch. Keberagaman ini menjadi kekuatan mereka dalam berkolaborasi dan menciptakan karya yang lebih kaya.
Salah satu kegiatan rutin Sanggar Utas adalah sesi merajut bersama setiap Rabu sore di Perpustakaan Daerah NTB mulai pukul 15.30 WITA. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan menjadi sarana belajar, bersilaturahmi, serta berbagi inspirasi di antara para anggota dan masyarakat.
Menariknya, Sanggar Utas juga mengeksplorasi praktik keberlanjutan melalui pelatihan internal tentang daur ulang sampah plastik. Dalam pelatihan tersebut, para anggota belajar mengubah kantong plastik bekas menjadi benang, yang kemudian diproses menjadi tali rajut. Produk-produk hasil daur ulang ini tidak hanya unik, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan.
“Memang cukup menantang karena plastik keras dan menyakitkan di tangan saat dirajut, tapi hasilnya penuh cerita dan bernilai,” ungkap Lia.
Beberapa produk dari benang daur ulang telah berhasil dijual, meskipun pengembangannya masih terbatas karena keterbatasan waktu dan kesibukan anggota. Meski demikian, semangat berkarya tetap menjadi nyawa komunitas ini.
Sanggar Utas juga terbuka untuk berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, atau lembaga lainnya yang ingin memperkenalkan kerajinan rajut kepada siswa atau masyarakat umum. Mereka menyediakan kelas rajut baik secara privat maupun kelompok.
"Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi kami ruang untuk berbagi. Kami percaya, semangat berkarya dan berdaya akan terus tumbuh, di mana pun kami berada serta berharap hasil karya dari komunitas ini dapat dikenal hingga kancah internasional," tutup Lia di Sore Ceria Pro 2 RRI Mataram.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....