Fenomena Brain Rot, Apa Dampaknya bagi Kita?

  • 23 Jun 2026 14:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di era digital, masyarakat semakin akrab dengan media sosial, video pendek, dan berbagai konten yang dapat diakses dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul fenomena yang kini banyak diperbincangkan, yaitu brain rot.

Secara umum, brain rot merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi menurunnya kemampuan berpikir, fokus, dan konsentrasi akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital yang dangkal, repetitif, dan bersifat hiburan instan. Meski bukan diagnosis medis resmi, fenomena ini menjadi perhatian karena semakin banyak dialami oleh generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial.

Menurut informasi yang disampaikan dalam program edukasi kesehatan oleh Kementerian Kesehatan RI, kebiasaan scrolling media sosial secara berlebihan dapat membuat otak terus-menerus menerima rangsangan cepat. Akibatnya, seseorang menjadi lebih sulit berkonsentrasi pada aktivitas yang membutuhkan fokus dalam waktu lama, seperti membaca, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan.

Fenomena brain rot juga dikaitkan dengan menurunnya kemampuan berpikir kritis. Paparan konten singkat yang terus berganti membuat otak terbiasa menerima informasi secara instan tanpa proses analisis yang mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk memahami persoalan yang kompleks dan mengambil keputusan secara matang.

Selain berdampak pada fungsi kognitif, penggunaan media digital yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Kebiasaan terus-menerus memeriksa gawai berpotensi menimbulkan kecemasan, gangguan tidur, hingga ketergantungan terhadap media sosial.

Untuk mencegah brain rot, masyarakat dianjurkan menerapkan pola penggunaan gawai yang sehat, membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas fisik, membaca buku, serta mengonsumsi konten digital yang edukatif dan berkualitas. Literasi digital yang baik menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa mengurangi kualitas kemampuan berpikir dan kesehatan mental. (RRI/Irene Dyah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....