Teater sebagai Medium Ingatan Kolektif

  • 12 Des 2025 14:19 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Di tengah dinamika seni pertunjukan yang terus berkembang, teater kembali menegaskan perannya sebagai ruang untuk mengingat dan memaknai ulang pengalaman kolektif masyarakat. Festival Teater Indonesia (FTI) 2025, melalui tema Sirkulasi Ilusi, menempatkan teater sebagai medium penting untuk merawat, memanggil, dan mengedarkan kembali ingatan kolektif.

Dalam Catatan Kuratorial FTI 2025 dijelaskan bahwa festival ini tidak sekadar menampilkan karya, tetapi menjadi medan refleksi untuk membaca ulang pengalaman sosial dan membayangkan masa depan teater Indonesia. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana teater mampu menjadi ruang tempat memori, emosi, dan gagasan masyarakat dipresentasikan secara simbolik dan intuitif.

Dalam kuratorial FTI menegaskan empat pilar utama: pembacaan ulang realisme, adaptasi lintas media, interaksi kepenontonan yang relevan dengan kondisi sosial, serta pembangunan ekosistem teater yang inklusif. Berdasarkan dara laman Fakultas Seni Pertunjukan Institute Kesenian Jakarta, teater modern Indonesia memang berkembang melalui perpaduan realisme dengan praktik eksperimental, memungkinkan seniman membuka kembali arsip ingatan melalui struktur penceritaan yang lentur. Catatan Kuratorial FTI 2025 juga menekankan bahwa strategi ini menjadi cara untuk memahami kembali hubungan antara seniman, penonton, dan realitas yang terus bergerak.

Pemilihan 16 kelompok dari panggilan terbuka serta 4 kelompok undangan mencerminkan spektrum praktik teater Indonesia yang luas. Dilansir laman Direktorat Kebudayaan Kemendikbudristek, keberagaman wilayah dan pendekatan artistik merupakan faktor penting dalam memetakan dinamika teater nasional. Karena itu, FTI 2025 menggabungkan seniman berpengalaman dan pendatang baru untuk menciptakan ruang dialog yang menyatukan memori lama dan interpretasi baru.

Lebih dari sekadar pertunjukan, FTI 2025 menghadirkan lokakarya, diskusi, pameran, hingga penerbitan buku yang menjadi ruang distribusi gagasan. Laporan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengenai warisan budaya takbenda menyebut bahwa forum kolaboratif semacam ini penting untuk menjaga kontinuitas pengetahuan dan mendorong masyarakat memahami ulang memori budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dengan menggabungkan gagasan kuratorial, praktik lintas disiplin, serta dialog kreatif antarwilayah, Festival Teater Indonesia 2025 memperlihatkan bahwa teater bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga medium ingatan yang hidup. Teater menjadi tempat di mana kenangan dapat dibaca ulang, ditafsirkan kembali, dan dibagikan, sehingga membangun ekosistem seni yang reflektif, berkelanjutan, dan terus berkembang. (RRI/Aldi W.)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....