Festival Teater Indonesia Hidupkan Panggung Empat Kota Nusantara
- 27 Nov 2025 09:37 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Festival Teater Indonesia (FTI) segera digelar sebagai hajatan besar pertama yang menyatukan para seniman lintas daerah di empat kota: Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Sebanyak 20 kelompok teater dan seniman individu terpilih akan menampilkan karya adaptasi sastra serta inovasi panggung kontemporer. Selain pertunjukan, FTI juga menghadirkan rangkaian kegiatan seperti bincang karya, diskusi, lokakarya, jelajah panggung, pameran arsip, simposium, dan Teras FTI sebagai ruang bertemu komunitas lokal.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi TITIMANGSA dan PENASTRI dengan dukungan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI. Tema tahun perdana, Sirkulasi Ilusi, menyoroti bagaimana realitas dan representasi berkelindan dalam kehidupan kontemporer, memperluas hubungan antara teks sastra dan panggung teater.
Happy Salma selaku penggagas FTI menyatakan bahwa festival ini diharapkan menjadi ruang silaturahmi budaya, sekaligus ruang belajar dan adaptasi bagi para pelaku teater dari beragam latar belakang. Hal senada disampaikan Ahmad Mahendra, Dirjen Kebudayaan, yang menilai FTI sebagai wadah penting bagi alih wahana sastra dan penguatan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya. Kurasi dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan estetika, kesesuaian konteks kota, serta keadilan representasi daerah dan generasi.
| Baca juga: Apa Itu Esports Nations Cup? |
Berikut rangkuman detail penampilan teater di empat kota penyelenggara.
1. Medan – Eksperimen, Narasi Kota, dan Energi Pertunjukan
Lokasi: Auditorium RRI Medan (1–3 Desember 2025)
Medan menjadi kota pembuka dengan ragam pendekatan artistik yang kuat.
Bali Eksperimental Teater menampilkan karya berbasis tubuh dan bunyi khas Bali yang diolah secara kontemporer.
Luna Vidya/Storytelling Academy membawa kekuatan penuturan lisan Makassar dengan struktur panggung intim.
Porman Wilson Manalu dari Medan menghadirkan monodrama yang menyoroti relasi manusia, kota, serta ingatan personal.
Stage Corner Community menampilkan teater realis dengan ritme dialog cepat dan tata artistik modern.
Teater Kurusetra dari Lampung menyuguhkan pentas simbolis dengan nuansa tradisi dan elemen musikal daerah.
2. Palu – Pertemuan Tradisi, Gerak, dan Eksplorasi Visual
Lokasi: Gedung Kesenian Palu (6–8 Desember 2025)
Palu menjadi ruang eksplorasi teater berbasis gerak, ritual, dan visual.
Insomnia Theater Movement dari Lombok Barat tampil dengan komposisi gerak repetitif yang menonjolkan dinamika tubuh.
Komunitas Sakatoya dari Yogyakarta mengeksekusi adaptasi sastra dalam format minimalis yang mengedepankan kesunyian dan intensitas emosi.
Lentera Silolangi sebagai tuan rumah mengangkat cerita lokal Palu dengan musik etnik dan narasi keseharian masyarakat.
Studiklub Teater Bandung membawa ciri khas teater klasik-modern dengan struktur dramatik kuat dan aktor yang disiplin.
Tilik Sarira Creative Process dari Jawa Tengah menampilkan karya kontemplatif dengan paduan ritual, improvisasi, dan simbol-simbol spiritual.
2. Mataram – Ruang Pertemuan Identitas dan Estetika Kepulauan
Lokasi: Taman Budaya NTB (10–12 Desember 2025)
Panggung Mataram menghadirkan warna-warna budaya kepulauan Indonesia.
Dexara Hachika dari Pontianak menampilkan teater visual dengan permainan objek, cahaya, dan ruang yang eksperimental.
Nara Teater dari Flores Timur menghadirkan karya berbasis tradisi dengan musik dan pola gerak khas timur Indonesia.
Sanggar Budaya Kalimantan Selatan membawa kisah rakyat dalam format musikal bernapas lokal.
Teater Lho Indonesia dari Mataram menyoroti identitas pesisir melalui simbol-simbol panggung yang puitis.
Yeni Wahyuni dari Padang Panjang menampilkan monoperformance yang menggali relasi perempuan, rumah, dan ingatan keluarga.
4. Jakarta – Skala Produksi Besar dan Ragam Gaya Kontemporer
Lokasi: Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (14–16 Desember 2025)
Jakarta menjadi kota penutup yang menyuguhkan spektrum estetika kontemporer.
Andi Bahar Merdhu dari Gowa menyajikan puisi panggung dengan kekuatan vokal dan gestur yang ekspresif.
Bengkel Seni Embun dari Ambon menghadirkan teater musikal yang memadukan harmoni kepulauan dan drama emosional.
Rumah Kreatif Suku Seni Riau membawa adaptasi sastra dengan komposisi musik dan struktur dramatik yang rapi.
Serikat Teater Sapu Lidi/Ramdiana dari Banda Aceh menampilkan teater simbolik dengan dinamika emosi tajam.
Teater Kubur dari Jakarta Timur menghadirkan pertunjukan kontemporer yang kritis, berani, dan penuh eksperimen visual.
Festival Teater Indonesia tidak hanya menyajikan pertunjukan, tetapi juga merawat pengetahuan melalui program arsip yang didokumentasikan oleh para penulis di setiap kota dan akan diterbitkan ke dalam buku digital. Selain itu, FTI memberikan Penghargaan Pengabdian Seumur Hidup (PSH FTI) bagi tokoh teater yang berjasa di wilayah masing-masing.
Dengan cakupan empat kota, keberagaman gaya, dan semangat merayakan sastra di panggung teater, FTI hadir sebagai tonggak penting yang mempertemukan ide, memperluas jaringan seni, serta menghidupkan kembali teater sebagai ruang dialog dan kreativitas bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....