Pendapatan Musik: Kaset Lebih Menguntungkan Digital

  • 31 Okt 2025 18:02 WIB
  •  Mataram

KBRN,Mataram: Di podcast Ngantin Yuk” RRI Mataram yang dipandu Dika Swara dan Omink Chan, penyanyi Sasak populer Erni Ayu Ningsih dan Hendri berbagi pengalaman soal honor dan perkembangan industri musik. Omink Chan menanyakan mana yang lebih menguntungkan: rekaman lagu untuk cetak fisik atau platform digital.

Erni menjawab dengan santai, “Dulu kalau rekam VCD atau cetak fisik, hasilnya lebih nyata. Sekarang di platform digital, memang lebih banyak yang lihat, tapi uangnya nggak seberapa dibandingkan dulu.” Hendri menambahkan, intinya bagi mereka adalah berkarya dan tetap eksis di dunia musik Sasak, meskipun cara dan bayaran berubah.

Mereka mengingat masa lalu ketika penghasilan dari rekaman fisik terasa lebih “nyata”.

"Kalau sekarang, dari musisi nasional sampai ke kita, memang platform digital bikin lagu lebih dikenal. Tapi materi yang langsung terasa tetap lebih dari fisik,” ungkap Erni.

Hendri menambahkan, dulu teman-teman model atau penyanyi dibayar puluhan ribu per lagu, sekarang dengan digital bisa mencapai ratusan ribu, tapi dampaknya berbeda.

“Teknologi bikin kita lebih dikenal, tapi dari sisi materi, nggak selalu menang,” katanya.

Meski begitu, kedua penyanyi sepakat, yang terpenting adalah melestarikan budaya Sasak melalui musik.

“Kita harus tetap menjaga budaya, jangan sampai hilang karena kita cuma kejar popularitas atau materi,” kata Erni dengan tegas.

Mereka menekankan pentingnya generasi muda untuk mengikuti jejak mereka, tetap bangga dengan budaya sendiri meski suka mendengarkan budaya orang lain. Erni mengingatkan, tanpa generasi yang peduli, lagu-lagu dan budaya Sasak bisa terlupakan.

Omink Chan sempat menyinggung kesulitan era sekarang, ketika semua lagu bisa diakses dengan mudah melalui platform digital. Erni pun mengaku, tantangan kini berbeda tapi tetap menantang.

“Dulu nyanyi itu susah, harus latihan keras. Sekarang semua orang bisa dengar lagu dengan mudah, tapi kita harus tetap menonjol,” ujarnya.

Hendri menambahkan, kehadiran Erni dan musisi sekelasnya membantu menyeimbangkan industri musik Sasak. Mereka menjadi panutan sekaligus penjaga kualitas lagu-lagu tradisional, sehingga tetap relevan di era digital.

Erni menutup dengan refleksi bijak: setiap masa punya orangnya, setiap orang punya masanya. “Sekarang giliran saya, besok giliran orang lain. Tapi yang penting, budaya kita tetap hidup, dan musik Sasak tetap terdengar,” katanya sambil tersenyum.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....