Kocak: Erni, Ternyata Saya Mahal Juga

  • 31 Okt 2025 17:50 WIB
  •  Mataram

KBRN,Mataram:Penyanyi Sasak terkenal, Erni Ayu Ningsih, dalam podcast “Ngantin Yuk” RRI Mataram yang dipandu Dika Swara dan Omink Chan, membuka cerita soal pengalaman awalnya menegosiasikan honor. Awalnya, Erni mengaku sempat bingung dengan sistem bayaran yang beragam: ada yang bayar tetap, per bulan, lepas, bahkan per jam.

“Kalau bayar lepas waktu itu, nominalnya Rp1 juta. Zaman itu banyak banget buat aku,” kata Erni.

Dari situ, ia mulai memahami bahwa suara dan kerja kerasnya ternyata memiliki nilai tersendiri, meski aturan mainnya cukup ketat. Lagu-lagu yang dibawakannya pun tidak boleh dibawakan oleh orang lain.

Pengalaman itu membuat Erni sadar bahwa profesi penyanyi, meskipun lagu daerah, tetap harus ada aturan dan manajemen yang jelas. Ia mengingat, sebelum ada produser yang menegaskan semuanya, bayaran sering terlambat atau bahkan tidak jelas. Kadang lagu meledak, tapi honor tidak datang sama sekali.

“Kalau manggung memang ada bayaran, tapi kalau rekaman, kadang dibayar nanti-nanti, atau bahkan hilang. Pernah juga lagu tenar, bayarnya nggak ada. Jadi biar fair, saya buka aja sekarang,” jelas Erni sambil tertawa kecil.

Pengalaman pahit ini justru menjadi pelajaran penting baginya. Setelah produser dari Jawa datang dan menegaskan patokan harga, Erni mulai menetapkan tarif untuk suara dan penampilannya. Ia sadar, jika orang mau memakai jasanya, harus sesuai dengan nilai yang ia tetapkan. Dari situlah Erni mulai memandang profesi penyanyi secara profesional.

“Awalnya banyak orang kaget, anggap aku mahal, padahal cuma menegakkan aturan,” ujarnya.

Menurut Erni, pengalaman ini membuka pemahaman bagi banyak orang bahwa industri musik, termasuk lagu daerah, juga membutuhkan manajemen yang jelas agar hak penyanyi terlindungi.

Ia menambahkan, sejak awal 2009-2010, semua mulai teratur. Dengan adanya aturan dan manajemen yang jelas, Erni bisa mengatur budget, honor, dan hak-haknya dengan lebih profesional. Bahkan sampai menikah dengan produser, sistem ini tetap dijalankan agar semua berjalan rapi.

Hendri pun menambahkan, banyak artis daerah lain yang kehilangan kesempatan karena tidak ada manajemen.

“Kalau nggak dikelola, bisa hilang. Padahal sekarang media sosial bikin artis daerah banyak dilirik,” kata Hendri.

Pentingnya manajemen menjadi salah satu kunci agar karya dan usaha para penyanyi tetap dihargai.

Erni menutup dengan pesan bijak, meski memulai dari pengalaman honor kecil dan aturan yang ketat, profesionalisme dalam dunia hiburan adalah hal yang harus dijaga. Dengan manajemen yang jelas, artis daerah pun bisa bersaing dan tetap dihargai, bukan hanya sekadar nama atau popularitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....