"Hikayat Gajah Duduk", Sindir Kekuasaan dengan Sentuhan Seni Tradisi
- 16 Okt 2025 11:12 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Setelah lima tahun vakum dari panggung, Teater Kamar Indonesia kembali dengan karya terbaru bertajuk Hikayat Gajah Duduk (HGD), sebuah drama satir garapan sutradara Syahirul Alim dan penulis naskah Imtihan Taufan. Pementasan ini akan digelar pada 18–21 Oktober 2025, pukul 20.00 WITA, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB.
Kisah Hikayat Gajah Duduk berpusat pada sosok Kalangkabo, penguasa yang hidup dalam paranoia akibat “Perkara Bungkusan” simbol dari kerakusan dan kebusukan kekuasaan. Awalnya bungkusan itu membawa kesenangan, namun lambat laun justru menyeret Kalangkabo ke jurang kegilaan. Ia mencurigai semua orang di sekitarnya dan terjebak dalam arus kekuasaan yang kian menghancurkan dirinya.
Menurut Imtihan Taufan, naskah ini merupakan respon terhadap fenomena sosial dan politik yang kerap berulang di berbagai masa. Dalam pertunjukan tersebut, kekuasaan digambarkan sebagai sesuatu yang agung sekaligus mematikan tempat di mana kebesaran dan kehancuran berdiri berdampingan.
“Kekuasaan yang sarkas, menutup mata dari penderitaan rakyat, menjadi bahan refleksi dalam naskah ini,” ujar Taufan, seperti dikutip dari siaran pers resminya, Kamis (16/10/2025).
Pimpinan Produksi Naniek I. Taufan menegaskan bahwa Hikayat Gajah Duduk tetap relevan dengan situasi sosial saat ini. “Perkara kekuasaan akan selalu hidup hingga akhir zaman. Itulah mengapa kami mengangkat kembali naskah ini ke panggung,” ungkapnya.
Berbeda dari pementasan sebelumnya, Hikayat Gajah Duduk tahun 2025 hadir dengan konsep eksperimentasi. Teater Kamar Indonesia menggandeng seniman tradisi Kemidi Rudat Terengan dari Tanjung, Lombok Utara, untuk berpadu dalam satu karya teater modern. “Kami ingin mengangkat seni tradisi agar dapat diterima publik melalui bentuk pertunjukan baru,” tambah Naniek.
Eksperimentasi ini terlihat dari berbagai aspek produksi. Dari sisi kostum, para aktor mengenakan atribut khas Rudat seperti kaos kaki tinggi, selempang, topi tarbus, dan tanda pangkat. Musik dan ilustrasi panggung pun diwarnai oleh lantunan khas Rudat yang ritmis, sementara beberapa adegan dibuka dan ditutup dengan gerak rampak tari Rudat. Bahkan sejumlah dialog memanfaatkan syair Rudat untuk menegaskan pesan naskah.
Dalam pertunjukan ini, sejumlah aktor Teater Kamar Indonesia akan tampil, di antaranya Syahirul Alim, Murachiem, Kelly Jasmine Suntawe, Sumarta, Vino Sentanu, Zakiyudin, dan Nash Jauna. Mereka akan beradu peran dalam konflik perebutan kekuasaan yang sarat simbol dan satire sosial.
Pertunjukan ini juga menampilkan Maestro Rudat Zakaria dari Terengan, Lombok Utara, yang memperkuat nuansa tradisi dengan lantunan syair khasnya. Sementara itu, Bagus Livianto kembali menjadi penata lampu setelah sekian lama absen, didukung oleh Akmal sebagai penata artistik dan Badi Saputra sebagai penata musik.
Teater Kamar Indonesia dikenal sebagai kelompok teater yang selalu memikat publik. Pementasan mereka sebelumnya, Sandiwara Merah Jambu 1 pada 2009, berhasil menarik lebih dari 1.200 penonton dan harus dipentaskan enam hari berturut-turut. Antusiasme serupa diperkirakan akan kembali terjadi pada pementasan Hikayat Gajah Duduk kali ini.
Dengan kekuatan cerita yang menggigit, kritik sosial yang tajam, serta kolaborasi lintas tradisi, Hikayat Gajah Duduk bukan sekadar tontonan, tetapi cermin tajam tentang wajah kekuasaan dan kemanusiaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....