Shinta Paramesti Tekuni Komunikasi Demi Jadi Model Inspiratif
- 16 Okt 2025 10:25 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Perjalanan pendidikan dan cita-cita Ni Nyoman Shinta Paramesti Lestari, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Hindu di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram, menjadi cerminan semangat muda yang pantang menyerah dalam mengejar impian. Gadis asal Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menempuh jalannya dengan penuh keyakinan, meski harus melewati sejumlah rintangan dan perubahan arah dalam menentukan masa depan.
Awalnya, Shinta memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang guru sekolah dasar. Ia bahkan sempat mendaftarkan diri di kampus lain dengan memilih program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun, takdir berkata lain.
“Saya sempat daftar di kampus lain karena ingin jadi guru SD. Tapi waktu itu tidak lolos di pilihan pertama dan kedua, jadi akhirnya saya mendaftar di IAHN Gde Pudja Mataram dan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi,” ungkap Shinta kepada RRI, Kamis (16/10/2025).
Meski awalnya bukan pilihan utama, jurusan Ilmu Komunikasi justru membuka jalan baru bagi Shinta untuk mengenal potensi dirinya. Melalui perkuliahan, ia mulai tertarik mendalami dunia Public Relations (PR) dan melatih diri agar lebih percaya diri dalam berbicara di depan umum.
“Sekarang saya fokus belajar menjadi seorang Public Relation, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan benar, serta melatih diri agar lebih percaya diri,” ujarnya.
Motivasi Shinta untuk berkuliah bukan hanya demi gelar akademik, tetapi juga untuk menyiapkan diri menjadi sosok yang bermanfaat bagi banyak orang. Ia ingin ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat disalurkan kepada generasi muda, sekaligus menjadi kebanggaan bagi orang tuanya.
“Saya ingin menyalurkan ilmu yang saya dapatkan kepada generasi selanjutnya agar bermanfaat,” tuturnya.
Di balik semangat akademiknya, Shinta juga memiliki cita-cita yang tak kalah menarik menjadi seorang model profesional. Ketertarikannya pada dunia modeling muncul sejak duduk di bangku SMA, saat ia mengikuti ajang Putri Cilinaya di Lombok Utara.
“Itu pengalaman pertama saya ikut ajang model, waktu itu masih kelas 1 SMA dan belum punya pengalaman sama sekali. Tapi selama karantina, saya belajar banyak dan ternyata seru. Dari situ saya jadi semakin tertarik untuk belajar dunia modeling,” kisahnya.
Menurut Shinta, modeling bukan sekadar soal penampilan, tetapi juga tentang kemampuan berkomunikasi dan membangun kepribadian yang percaya diri. Ia menilai, jurusan Ilmu Komunikasi sangat relevan dengan dunia model yang menuntut kemampuan berbicara di depan publik dan berinteraksi dengan banyak orang.
“Kalau ingin jadi model, skill komunikasi harus bagus dan mental harus kuat. Dengan belajar komunikasi, saya jadi tahu bagaimana berbicara di depan banyak orang dengan percaya diri,” ujarnya.
Kini, Shinta terus memperkaya wawasannya melalui berbagai sumber, termasuk mengikuti perkembangan ajang modeling dan pageant seperti Puteri Indonesia lewat media sosial. Ia berharap suatu hari nanti dapat ikut berpartisipasi dan mewakili daerahnya di tingkat nasional.
“Sekarang saya masih belajar dan mencari tahu dunia modeling itu seperti apa. Harapannya nanti bisa ikut ajang besar seperti Puteri Indonesia,” katanya penuh semangat.
Dengan tekad kuat dan semangat belajar yang tinggi, Ni Nyoman Shinta Paramesti Lestari menjadi contoh nyata bahwa arah hidup bisa berubah, namun tujuan untuk berkembang dan bermanfaat bagi orang lain tetap bisa digapai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....