Merdeka Dengan Mengekspresikan Diri, Bukan Mencaci Maki
- 01 Sep 2025 13:44 WIB
- Mataram
KBRN, Bima: Kemerdekaan sejatinya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga tentang bagaimana setiap individu mampu mengekspresikan diri secara sehat dan bermartabat.
Di era digital saat ini, ruang kebebasan semakin terbuka lebar. Namun sayangnya, tak jarang kebebasan itu disalahartikan dengan mencaci, menghina, hingga menebar ujaran kebencian di ruang publik maupun media sosial.
Demikian pesan dan kesan yang terungkap dalam acara Panggung Sastra yang digelar pemerintah dan pemuda di Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima sebagai rangkaian menutup perayaan Bulan Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia.
Dalam Panggung Sastra yang mengangkat tema Merdeka Dimulai Dari Diri Sendiri itu jelas Kepala Desa Karumbu, Suherman, Panggung Sastra ini menjadi wadah ekspresi seni dan budaya untuk masyarakat setempat yang berlangsung di pelataran Kantor Desa Karumbu pada Jumat, 29 Agustus 2025 pekan lalu.
Kegiatan ini paparnya menampilkan berbagai pertunjukan sastra seperti pembacaan puisi, monolog, musikalisasi puisi, pidato, teater, musik hingga cerita rakyat. Para peserta berasal dari kalangan pelajar, pemuda desa, guru, dan masyarakat umum.
Dalam sambutannya Suherman menyampaikan kegiatan ini tidak hanya sebagai penutup perayaan kemerdekaan, tetapi juga sebagai upaya melestarikan budaya literasi di tengah masyarakat.
“80 tahun Indonesia Merdeka adalah waktu yang panjang, namun perjuangan belum usai. Maka hari ini kita mengangkat pena, mengangkat buku, mengangkat gagasan karena kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan tetapi bebas dari kebodohan, bebas dari kemiskinan, bebas dari ketidakadilan dan bebas dari cara cara saling mengkerdilkan sesama anak bangsa,” ujar Suherman.
Pemerintah Desa mengajak semua untuk rawat kemerdekaan ini dengan cinta dan menjaga persatuan dengan bahasa yang indah, bukan dengan caci maki. Serta mengimbau kerja nyata, agar anak cucu kelak bisa berkata di desa inilah sastra pernah menyalakan cahaya kemerdekaan.
Menurutnya, masyarakat perlu belajar membedakan antara ekspresi diri dengan ekspresi kebencian. Kritik membangun adalah bentuk cinta pada bangsa, sementara caci maki hanya menambah perpecahan.
Sementara itu, sejumlah generasi muda di Desa Karumbu mengaku lebih memilih menyalurkan kreativitas mereka lewat karya seni, tulisan, dan konten positif. Bagi mereka, itu adalah cara terbaik merayakan kebebasan sekaligus menjaga harmoni.
Kemerdekaan akan terasa lanjutnya lebih bermakna jika diwarnai dengan semangat persatuan, bukan pertengkaran. Karena sejatinya, bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang mampu mengekspresikan diri dengan bijak, bukan dengan mencaci maki. Rukwani
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....