Keunikan Adat Perkawinan Suku Samawa, Sumbawa
- 05 Agt 2024 14:41 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Setiap daerah memiliki cara atau adat tersendiri dalam melakukan prosesi sebelum atau sesudah melangsungkan sebuah pernikahan yang memiliki nilai tersendiri agar pernikahan yang dilakukan langgeng dan pengantin menjadi keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah, dan warahmah. Khususnya dalam masyarakat Sumbawa, ada berbagai macam cara atau adat yang dilakukan terlebih dahulu sebelum melangsungkan sebuah pernikahan.
Jika adat atau cara tidak dilakukan sebelum pernikahan, proses pernikahan tidak dapat berlangsung dengan lancar karena segala cara atau adat yang dilakukan salah satu fungsinya agar kedua belah keluarga akan lebih saling mengenal. Terlebih, masyarakat Suku Samawa menganggap sebuah pernikahan sebagai sesuatu yang sakral dan suci, maka penyelenggaraannya pun harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat Suku Samawa.
Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia tentu menjadi warisan budaya tak ternilai, begitu pun dalam adat perkawinan Suku Samawa. Ada beberapa proses yang harus dilakukan mulai dari sebelum pernikahan itu dilaksanakan hingga pada hari perkawinan itu dilaksanakan.
1. Bakatoan (Meminang)
Bakatoan atau meminang dilaksanakan oleh utusan dari keluarga laki-laki yang ditentukan oleh pihak keluarga laki-laki yang terdiri dari kerabat terdekat, ditambah dengan tokoh-tokoh masyarakat yang disegani. Sebelum prosesi Bakatoan dilaksanakan, seorang yang diutus dari pihak laki-laki mendatangi orang tua pihak perempuan untuk memberitahukan bahwa akan datang rombongan dari pihak laki-laki pada waktu tertentu yang telah disepakati oleh pihak laki-laki. Jika Bakatoan tidak dilakukan, maka tidak akan adanya sebuah pernikahan.
"Bakatoan adalah tahap pertama yang sangat penting dalam prosesi pernikahan Sumbawa. Tanpa Bakatoan, proses pernikahan tidak bisa dilanjutkan," ujar Pak Mus Biawan, seorang tokoh masyarakat Sumbawa.
2. Saputis Ling
Pada tahap ini segala bentuk keperluan dari kedua belah pihak untuk mendukung suksesnya perkawinan dimusyawarahkan dan dibicarakan secara tuntas. Pihak perempuan yang menurut adat menjadi pelaksana hampir seluruh upacara, pada kesempatan itu menyatakan keperluan yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki yang biasanya dalam bahasa Sumbawa disebut Mako. Besar kecilnya keperluan tersebut tergantung hasil musyawarah antar keluarga perempuan. Pada saat inilah peran dukun atau sanro menonjol, seperti misalnya untuk menentukan hari baik bulan baik upacara selanjutnya. Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan keinginan kedua belah pihak. Basaputis berhasil jika kedua belah pihak menyetujui besar kecilnya keperluan ditanggung oleh pihak laki-laki hingga keperluan mas kawin.
"Saputis Ling adalah proses musyawarah yang menentukan segala kebutuhan untuk pernikahan. Ini adalah tahapan penting untuk memastikan kesepakatan dari kedua belah pihak," jelas Pak Mus Biawan.
3. Bada’ (Pemberitahuan Resmi)
Bada’ yakni pemberitahuan secara resmi kepada si gadis bahwa dia tidak lama lagi akan menikah. Petugas untuk itu biasanya ditunjuk istri tokoh-tokoh masyarakat yang disegani. Waktu yang dipilih pagi hari dan dengan kalimat yang telah ditentukan.
"Pada tahap Bada’, sang gadis diberitahu secara resmi tentang pernikahannya yang akan datang. Ini adalah momen yang sangat emosional bagi si gadis," kata Pak Mus Biawan.
Setelah pemberitahuan tersebut, sang gadis yang dipinang biasanya akan menangis dan disambut dengan suara Rantok yakni suara dari alat penumbuk padi.
"Tangisan gadis yang dipinang diiringi suara Rantok menjadi simbol emosi dan kesakralan momen tersebut," tambah Pak Mus Biawan.
4. Nyorong
Nyorong merupakan sebuah upacara adat dimana pihak keluarga calon pengantin laki-laki datang dengan rombongan yang cukup besar untuk menyerahkan bawaan kepada pihak keluarga calon pengantin wanita. Upacara ini biasanya diiringi dengan kesenian Ratib Rebana Ode. Di pihak wanita telah menanti juga dalam jumlah yang cukup besar, wakil-wakil dari pihak keluarga dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Setelah diawali dengan basa-basi dalam acara berbalas pantun, maka barang-barang bawaan pun diserahkan. Tak ketinggalan pula acara Barodak, dalam upacara tersebut, calon pengantin di lulur dengan ramuan tradisional yang disebut Odak. Odak dibuat dari ramuan kulit-kulit beberapa jenis pohon yang serba guna yang diproses secara khusus (ditumbuk halus).
Fungsi utama Odak adalah agar kulit menjadi kuning dan halus. Di samping itu, dengan ramuan daun pancar (pemerah kuku), kedua mempelai di cat kukunya (kaki maupun tangan) oleh Ina Odak, petugas khusus sebagai juru rias. Selain yang bersifat fisik, selama menjalani proses Barodak, kepada mereka diajarkan pula hal-hal yang berhubungan dengan persiapan menjadi suami istri, termasuk menjaga makanan/minuman. Inak Odak sendiri adalah petugas yang dipilih secara khusus, yakni orang pilihan pihak keluarga.
"Nyorong adalah salah satu upacara yang meriah dan penting dalam adat pernikahan Sumbawa, di mana pihak laki-laki membawa bawaan untuk pihak perempuan," ungkap Pak Mus Biawan.
5. Nikah
Setelah acara Barodak ini selesai, maka acara selanjutnya adalah Nikah. Sebagai penganut agama Islam, bagi masyarakat Sumbawa sebenarnya inilah inti dari segala rangkaian upacara adat perkawinan. Petugas agama dan tokoh-tokoh masyarakat yang diundang dalam upacara ikut menjadi saksi telah terjadinya ikatan perkawinan yang suci dan sangat disucikan. Kembang-kembang nikah yang ditancapkan mengelilingi sebatang pohon pisang yang diletakkan dalam sebuah bokor kuningan berisi beras dibagi-bagikan kepada hadirin.
6. Basai (Resepsi)
Tahap terakhir adalah Basai atau resepsi. Pada upacara inilah kedua mempelai menjadi raja sehari. Publikasi kepada seluruh warga masyarakat tentang perkawinan mereka dilaksanakan sepenuhnya lewat upacara Basai. Gemerincing uang logam yang diberikan oleh hadirin dalam acara Barupa yang diiringi dengan puisi lisan tradisional (Lawas) merupakan pesan-pesan moral terselubung yang sukar untuk dilupakan oleh kedua mempelai.
"Upacara Basai adalah puncak dari seluruh rangkaian upacara pernikahan di mana kedua mempelai diumumkan secara resmi kepada masyarakat," kata Pak Mus Biawan.
Begitu penting dan sakralnya perkawinan dalam budaya Samawa maka kita bisa merasakan unsur-unsur kesakralan tersebut dalam setiap upacara perkawinan Suku Samawa. Sebuah warisan budaya yang patut kita jaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....