Ojek Jagung dan Gabah di Desa Perigi, Bertahan Ditengah Medan Terjal
- 15 Mei 2024 21:05 WIB
- Mataram
KBRN, Lombok Timur. Ojek gabah dan jagung salah satu profesi yang masih banyak di geluti kaum laki-laki di Desa Perigi, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Kondisi jalan terjal serta geografis yang berada diketinggian dengan bebatuan membuat ojek ini banjir orderan ketika musim panen jagung dan gabah tiba. Omset yang didapatkan sebagai objek perhari mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah.
Pada musim jagung dan panen padi puluhan sepeda motor jenis CB menuju salah satu bukit di Desa Perigi, Kecamatan Suela Lombok Timur. Tidak ada satu orang pun yang menggunakan alat pelindung, apalagi helm dan jaket. Pemilik puluhan motor itu hanya mengenakan sendal jepit, celana panjang dan baju kaos panjang. Bahkan beberapa orang juga tidak memakai baju.
Begitu panen sudah selesai. Mereka melangsungkan aksinya sebagai ojek pengangkut jagung dan gabah dari bukit menuju rumah petani. Kondisi geografis Desa Perigi yang perbukitan membuat ojek pengangkut gabah ini banjir orderan. Sebab jalan menuju sawah petani tidak memungkinkan untuk dilewati mobil.
Miftahul Hadi salah seorang ojek jagung menceritakan, hampir sebagian besar laki-laki di Desa Perigi berprofesi menjadi ojek jagung. Profesi ini sudah puluhan tahun digeluti bersama teman-temannya. Satu kelompok ojek beranggotakan 10-25 orang.
"Saya mulai jadi ojek jagung dan gabah sejak tahun 2010 lalu. Pekerjaan ojek pengangkut jagung adalah pekerjaan musiman kami di sini," ucap Hadi, Rabu (15/5/2024.
Setiap musim panen tiba, baik panen jagung dan panen padi, ia dan teman-temannya banjir orderan. Tidak jarang juga ia bekerja sampai larut malam. Jalan berbatu, licin dan terjal merupakan hal biasa yang dilalui setiap hari. Baginya tidak ada jalanan yang tidak bisa dilalui.
Upah mengangkut jagung maupun gabah bervariasi. Tergantung jarak dan medan yang dilalui. Mulai dari Rp 25-50 ribu per karung, bahkan lebih. Semakin terjal jalan yang dilalui maka semakin mahal ongkos yang didapatkan. Dalam sehari upah yang didapatkan mulai dari Rp500 ribu-1,5 juta.
"Kalau kita mulai dari jam 08:00 Wita pagi sampai jam 02:00 Wita malam kita bisa dapatkan Rp1 juta lebih sehari. Dalam sebulan itu kita bisa dapat Rp8-9 juta. Walaupun malam kita tetap bekerja. Kita pakai senter," ungkapnya.
Diakui, resiko menjadi ojek jagung sangat besar. Bahkan bertaruh nyawa ketika jatuh dari ketinggian. Tidak jarang mereka juga terjatuh, sehingga mengakibatkan patah tulang. Namun hal itu tidak bisa memberikan efek jera bagi mereka. Bahkan beberapa orang yang pergi merantau rela pulang ketika musim panen tiba untuk menjadi ojek.
"Kalau jatuh sudah sering, bahkan ada yang sampai patah tulang. Tapi begitu sembuh mereka balik lagi jadi ojek. Kalau ada temen kita yang jatuh justru itu jadi bahan tawaan kami," ujarannya.
Kendati memiliki resiko berat, namun hal itu diakui jarang terjadi. Skill mengendarai motor di jalan terjal rata-rata sangat bagus dan sudah terbiasa dan sudah hapal medan, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan fatal sangat sedikit. Namun hal itu mereka tetap diantisipasi.
Tidak ada syarat khusus untuk menjadi ojek jagung. Terpenting memiliki kemampuan dan keberanian, siapapun boleh ikut menjadi ojek jagung. Bagi pemula menjadi ojek jagung atau gabah merupakan pekerjaan yang sangat sulit, karena barang bawaan akan terjatuh berkali-kali di tengah jalan.
"Kalau masih baru, jagung yang dibawa kadang terbalik, kalau tidak muatan yang terbalik motor yang terbalik," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....