Setahun Desa Berdaya Medana: Ketika Usaha Tumbuh, Manfaat Kembali ke Masyarakat

  • 30 Sep 2026 10:27 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pagi di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, tidak hanya dimulai dengan aktivitas rumah tangga dan pekerjaan warga. Di sejumlah sudut desa, ada aktivitas lain yang perlahan menjadi penggerak baru kehidupan masyarakat, jamur tiram yang dibudidayakan, kelapa yang diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), serta kain Batik Sasak yang terus dikembangkan.

Aktivitas-aktivitas itu menjadi bagian dari perjalanan Desa Berdaya Medana, sebuah program pemberdayaan yang digagas PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat (UIW NTB) bersama Klub Baca Perempuan (KBP). Setahun berjalan, program tersebut mulai memperlihatkan bagaimana sebuah intervensi sosial dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang manfaatnya tidak berhenti pada kelompok penerima program.

Desa Medana sebelumnya menghadapi tantangan sosial dan ekonomi yang cukup besar. Dari 1.801 kepala keluarga, sebanyak 671 KK atau 37,25 persen tergolong miskin atau tidak mampu. Di sisi ketenagakerjaan, 1.655 penduduk tercatat belum atau tidak bekerja, termasuk 838 perempuan.

Di tengah kondisi tersebut, perempuan didorong bukan sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi penggerak perubahan. Potensi lokal kemudian dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang dapat dikelola masyarakat, mulai dari jamur tiram, VCO, hingga Batik Sasak.

Satu tahun bukan waktu yang panjang. Namun, bagi kelompok perempuan di Medana, satu tahun cukup untuk melihat bagaimana sebuah usaha mulai menemukan bentuknya.

Rumah jamur yang dikelola kelompok kini mampu menghasilkan hingga 900 kilogram jamur per bulan. Dari produksi tersebut, pendapatan yang diperoleh berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp23 juta per bulan.

Di sisi lain, usaha VCO juga mulai berkembang. Sekitar 68 botol terjual setiap bulan dengan pendapatan sekitar Rp1,9 juta. Produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Lombok dan sejumlah wilayah lain di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau Singapura.

Bagi Klub Baca Perempuan (KBP), capaian tersebut bukan semata soal angka penjualan. Ada perubahan yang lebih penting, semakin banyak anggota kelompok yang memiliki peran dalam aktivitas ekonomi produktif.

“Melalui intervensi pengembangan UMKM ini, dampaknya sangat signifikan bagi kurang lebih 58 orang anggota kami,” ujar Ketua Klub Baca Perempuan, Nursida Syam, Rabu, 30 September 2026.

Namun, ada hal yang membuat perjalanan Desa Berdaya Medana menjadi berbeda. Ketika usaha mulai menghasilkan, keuntungan tidak seluruhnya berhenti sebagai pendapatan kelompok.

KBP bersama anggotanya menyepakati pembagian hasil usaha dengan prinsip keberlanjutan sekaligus kepedulian sosial. Sebanyak 70 persen hasil usaha dikembalikan untuk menjaga keberlangsungan produksi, sementara 30 persen dialokasikan untuk kegiatan sosial. Dari keuntungan itulah, manfaat kemudian bergerak keluar dari lingkaran kelompok.

Sebagian hasil penjualan jamur digunakan untuk menyediakan kebutuhan pokok melalui pasar gratis. Setiap pekan, kegiatan tersebut menjangkau sekitar 50 hingga 70 orang, terutama orang tua tunggal, anak yatim piatu, dan penyandang disabilitas.

Ketika musim kemarau datang dan persoalan air bersih menjadi tantangan bagi sejumlah wilayah, hasil usaha kelompok kembali memainkan peran. Sebagian pendapatan disisihkan untuk membeli dan menyalurkan air bersih ke desa-desa yang mengalami kekeringan.

Gerakan tersebut bahkan meluas ke bidang pendidikan. Semangat gemar membaca tetap dirawat melalui distribusi bahan bacaan kepada anak-anak di sekolah dan perpustakaan komunitas.

Dengan demikian, jamur yang tumbuh di rumah produksi tidak hanya menjadi komoditas. Begitu pula VCO yang dikemas dan dipasarkan. Di tangan kelompok perempuan Medana, aktivitas ekonomi tersebut menjadi bagian dari sebuah siklus: produksi menghasilkan pendapatan, pendapatan menopang keberlanjutan usaha, dan sebagian manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Sementara itu, bagi PLN UIW NTB, pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Masyarakat perlu memiliki ruang untuk mengembangkan usaha, mengambil peran dalam pengelolaan, dan menentukan bagaimana manfaat program dapat terus berlanjut.

General Manager PLN UIW NTB, Yondri Zulfadli, mengatakan Desa Berdaya Medana dirancang agar dukungan PLN tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mampu menciptakan kegiatan ekonomi yang terus tumbuh dan memberikan manfaat lebih luas.

“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dari perubahan di desanya sendiri. Ketika usaha tumbuh, pendapatan masyarakat meningkat dan sebagian manfaatnya kembali untuk membantu masyarakat lainnya. Inilah semangat pemberdayaan yang ingin terus kami bangun bersama di Desa Medana,” ujar Yondri dalam rilisnya.

Perjalanan selama satu tahun tersebut juga telah diukur melalui kajian independen menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI). Program Desa Berdaya Medana mencatat nilai SROI sebesar 2,56. Artinya, setiap Rp1 investasi sosial yang diberikan menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi terukur sekitar Rp2,56.

Angka tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa dampak pemberdayaan tidak hanya dapat dilihat dari bertambahnya produksi atau pendapatan. Ada nilai sosial yang ikut tumbuh ketika masyarakat mampu mengelola usaha sekaligus menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Setahun perjalanan Desa Berdaya Medana kini menjadi pijakan untuk memasuki tahap berikutnya. PLN UIW NTB bersama Klub Baca Perempuan akan melanjutkan pengembangan program melalui penguatan Sentra UMKM Medana, peningkatan kapasitas produksi jamur tiram dan Batik Sasak, pengembangan Tenun Bayan, diversifikasi serta sertifikasi produk, hingga perluasan promosi dan pemasaran.

Langkah tersebut diarahkan agar kelompok masyarakat semakin kuat dalam mengelola usaha secara mandiri. Pada saat yang sama, kegiatan sosial yang telah tumbuh dari hasil usaha diharapkan tetap berjalan dan berkembang.

Perjalanan Desa Berdaya Medana selama setahun menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, mengolah potensi yang ada di desa, memberi ruang kepada masyarakat untuk mengambil peran, lalu membangun usaha secara bersama-sama.

Dari rumah jamur, botol-botol VCO, dan karya Batik Sasak, tumbuh lebih dari sekadar aktivitas ekonomi. Ada kesempatan bagi perempuan untuk menjadi penggerak, ada pendapatan yang menopang keluarga, dan ada kepedulian sosial yang kembali mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

Setahun Desa Berdaya Medana pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah program yang telah berjalan selama 12 bulan. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah desa mulai membangun kekuatannya sendiri dengan masyarakat sebagai pelaku utama dan manfaat yang terus berputar, dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....