Tambora Terbakar: Api, Aktivitas Manusia, dan Celah Pengawasan

  • 14 Sep 2026 08:32 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu — Api kembali membakar kawasan Taman Nasional Tambora. Dalam tiga hari, 9–11 September 2026, sedikitnya 395,50 hektare areal terdampak di dua wilayah pengelolaan.

Di balik angka itu tersimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana api bisa berkembang di kawasan konservasi, ketika pengawasan dan pencegahan terus dilakukan?

Kebakaran di Resor Piong, SPTN I Kore, terpantau sejak 9 September dari arah Jalur HTI/Labu Nae–Doro Tabe Nae. Api kemudian berkembang ke arah selatan dan barat daya hingga mendekati Jalur Pendakian Piong Pos 2–Pos 3.

Pengukuran pada 11 September menunjukkan areal terdampak sekitar 358,16 hektare. Sementara di SPTN II Pekat, kebakaran di Jalur Pintu Walet Timur Hodo, Grid 67–68, Zona Rimba, berdampak sekitar 37,34 hektare.

Total hampir 400 hektare kawasan terdampak.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada vegetasi yang menghitam. Kebakaran juga memaksa pengelola mengambil langkah pembatasan aktivitas di dalam kawasan konservasi.

Seluruh jalur pendakian Taman Nasional Tambora ditutup sementara. Operasi pengawasan diperketat untuk memastikan tidak ada aktivitas manusia di dalam kawasan, selain petugas yang melakukan penanganan dan pengawasan.

Penutupan ini menjadi langkah pencegahan agar aktivitas manusia tidak menambah risiko munculnya titik api baru sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemantauan dan penanganan secara lebih terkendali.

Di lapangan, tantangannya tidak ringan. Sejumlah titik kebakaran tidak dapat dijangkau kendaraan. Petugas harus berjalan kaki selama sekitar lima hingga enam jam melewati jurang, punggungan bukit dan medan terbuka.

Pemadaman dilakukan siang hingga malam dengan mempertimbangkan arah angin, perkembangan api, kondisi medan dan keselamatan personel.

Di balik kesulitan tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa kebakaran bisa terjadi dan berkembang di kawasan yang semestinya mendapatkan perlindungan ketat?

Api dan Aktivitas Manusia

Petugas menemukan sejumlah petunjuk yang membuka kemungkinan adanya aktivitas manusia di sekitar lokasi kebakaran.

Di Resor Piong, kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas penggembalaan ternak, termasuk dugaan penggunaan api untuk menggiring ternak atau merangsang pertumbuhan tunas baru sebagai pakan.

Sementara di SPTN II Pekat, ditemukan bekas umban atau bahan pengasapan yang biasa digunakan dalam aktivitas pencarian madu.

Temuan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab kebakaran. Balai TN Tambora masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber api dan pihak yang bertanggung jawab.

Namun, temuan itu menunjukkan bahwa aktivitas manusia harus menjadi bagian penting dalam evaluasi sistem pencegahan Karhutla.

Jika aktivitas manusia terbukti menjadi salah satu faktor risiko, maka pemadaman saja tidak cukup. Yang harus diperbaiki adalah sistem yang mampu mencegah api muncul sejak awal.

Ketika Pengawasan Berhadapan dengan Medan

Balai TN Tambora telah melakukan ground check, pemadaman langsung, pembuatan sekat bakar, pengamanan lokasi dan patroli lanjutan.

Namun, fakta bahwa petugas membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapai sejumlah titik menunjukkan persoalan geografis yang serius.

Kawasan yang luas dengan medan berat membutuhkan sistem pengawasan yang tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran petugas secara fisik.

Deteksi dini menjadi sangat penting.

Semakin lama api tidak diketahui, semakin besar peluangnya menyebar mengikuti vegetasi kering dan arah angin. Ketika petugas tiba setelah api membesar, pekerjaan pemadaman menjadi jauh lebih berat.

Penutupan Jalur dan Operasi Pengawasan

Penutupan seluruh jalur pendakian menjadi konsekuensi langsung dari kondisi tersebut.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan kawasan sedang berada dalam situasi darurat. Aktivitas wisata, pendakian maupun kegiatan masyarakat di dalam kawasan harus dibatasi agar petugas dapat berkonsentrasi pada pengendalian kebakaran dan memastikan tidak muncul sumber api baru.

Operasi pengawasan diperketat untuk mencegah masyarakat masuk ke kawasan tanpa kepentingan yang jelas.

Namun, pembatasan tersebut juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi pola pengawasan jangka panjang.

Sebab, kawasan konservasi tidak hanya menghadapi ancaman ketika musim kebakaran tiba.

Solusi: Dari Pemadaman Menuju Pencegahan

Setiap kebakaran harus menghasilkan data. Lokasi awal api, waktu pertama terdeteksi, arah penyebaran, kondisi angin, jenis vegetasi, aktivitas manusia di sekitar lokasi dan akses menuju titik api perlu terdokumentasi.

Data tersebut dapat digunakan untuk membuat peta kerawanan Karhutla dan menentukan lokasi prioritas patroli.

Deteksi dini juga perlu diperkuat melalui kombinasi patroli lapangan, teknologi pemantauan dan jaringan masyarakat.

Masyarakat di sekitar kawasan dapat dilibatkan sebagai sistem peringatan dini. Peternak, pencari madu dan kelompok masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan perlu diberikan pemahaman tentang risiko penggunaan api sekaligus aturan yang jelas.

Pengawasan juga perlu diarahkan pada jalur masuk kawasan, lokasi penggembalaan dan wilayah yang memiliki riwayat kebakaran.

Jika penyelidikan menemukan unsur kesengajaan, penegakan hukum harus dilakukan secara tegas. Jika penyebabnya kelalaian, pendekatan pencegahan dan edukasi harus diperkuat.

Setelah api padam, pekerjaan belum selesai. Areal terbakar harus dipantau untuk memastikan tidak ada bara tersisa, mencegah kebakaran susulan dan menilai kebutuhan pemulihan ekosistem.

Tambora Tidak Hanya Membutuhkan Pemadam

Kepala Balai TN Tambora Abdul Azis Bakry menyatakan patroli dan pemantauan akan terus diperkuat. Koordinasi dengan Manggala Agni, MPA/MMP, masyarakat, pemerintah daerah dan aparat terkait juga dilakukan.

Langkah tersebut penting. Tetapi kebakaran seluas hampir 400 hektare memberikan pesan bahwa penanganan tidak boleh berhenti pada pemadaman.

Tambora membutuhkan sistem yang mampu mendeteksi api sebelum membesar, menemukan sumbernya, mengendalikan aktivitas manusia yang berisiko dan memastikan kebakaran tidak berulang.

Penutupan jalur pendakian dan pengetatan operasi memang diperlukan dalam kondisi darurat.

Namun, tujuan akhirnya bukan membuat Tambora tertutup bagi manusia.

Tujuannya adalah memastikan ketika manusia kembali masuk ke kawasan ini, mereka datang dengan aturan, kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap hutan.

Sebab, satu sumber api mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk muncul.

Tetapi hutan yang hilang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....