Dimas Rizky Andrean, Siswa SMPN 15 Mataram yang Membawa Mimpi ke OSN Nasional
- 25 Agt 2026 21:19 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Bagi Dimas Rizky Andrean, sains bukan sekadar pelajaran di bangku sekolah. Rasa ingin tahu yang terus tumbuh justru membawanya menapaki satu demi satu kompetisi hingga akhirnya siswa SMPN 15 Mataram itu dipercaya mewakili Nusa Tenggara Barat pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) IPA tingkat nasional 2026.
Di balik langkah tersebut, ada sebuah cita-cita yang sejak awal menjadi tujuan Dimas, yakni menjadi dokter. Cita-cita itu pula yang membuatnya mulai memikirkan perjalanan pendidikannya sejak masih duduk di bangku SMP, termasuk mencari tahu sekolah-sekolah menengah atas yang dinilainya dapat membuka peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran.
Ibunda Dimas, Rahmidian Safitri, mengatakan keinginan mengikuti berbagai olimpiade sepenuhnya tumbuh dari diri anaknya. Sebagai orang tua, ia memilih memberikan ruang selama kegiatan yang dilakukan Dimas bersifat positif dan sejalan dengan minat serta cita-citanya.
“Dimas ini termotivasi dari dirinya sendiri untuk bisa mengikuti berbagai macam olimpiade. Saya rasa memang dia sudah terbentuk keminatannya di bidang sains,” kata Rahmidian.
Ketertarikan itu mulai terlihat ketika Dimas duduk di kelas VII. Saat itu, ia mencoba mengikuti olimpiade sains untuk pertama kalinya tanpa persiapan khusus maupun les tambahan dan berhasil meraih medali perunggu, sebuah hasil yang kemudian membuatnya semakin percaya diri untuk mencoba kompetisi berikutnya.
Sejak saat itu, olimpiade tidak lagi sekadar menjadi pengalaman sekali coba. Setiap kali memperoleh informasi tentang kompetisi, Dimas justru datang kepada ibunya untuk meminta izin mengikuti lomba karena ia merasa menemukan bidang yang sesuai dengan minatnya.
Dimas sempat mengikuti bimbingan belajar, tetapi ia merasa kurang nyaman dengan pola belajar di dalam kelas. Ia kemudian mencoba bimbingan privat, namun setelah beberapa kali berganti tutor, Dimas akhirnya memilih kembali belajar secara mandiri karena merasa lebih leluasa menentukan materi yang ingin dipelajarinya.
Cara belajar tersebut membuat rasa ingin tahunya semakin berkembang. Menurut Ibunnya, Dimas tidak menyukai sekadar menghafal materi, melainkan berusaha memahami isi, konteks, dan maksud dari sesuatu yang dipelajarinya hingga benar-benar mengerti.
“Menurut dia menghafal itu bukan, tapi benar-benar harus paham konteks yang dipelajari,” ujarnya.
Gawai yang dimiliki Dimas pun lebih banyak dimanfaatkan untuk menunjang rasa ingin tahunya. Ibunya mengaku tidak terlalu membatasi penggunaan gawai selama digunakan untuk hal-hal positif, termasuk mencari informasi dan materi yang belum dipahaminya.
Perubahan kebiasaan Dimas juga mulai terlihat sejak memasuki SMP. Jika saat SD ia masih cukup sering bermain gim, memasuki masa SMP ketertarikannya terhadap gim mulai berkurang dan perhatian Dimas lebih banyak tercurah pada belajar serta berbagai kompetisi sains yang diikutinya.
Di tengah proses tersebut, SMPN 15 Mataram menjadi bagian penting dalam perjalanan Dimas. Ia masuk ke sekolah tersebut melalui jalur prestasi karena ingin mengandalkan kemampuan akademik yang telah dimilikinya, sekaligus mendapatkan lingkungan yang dapat mendukung minatnya di bidang sains.

Bagi Rahmidian Safitri, dukungan SMPN 15 Mataram tidak hanya terlihat dari fasilitas atau kegiatan olimpiade, tetapi juga dari perhatian guru dan pihak sekolah terhadap perkembangan belajar Dimas. Komunikasi antara sekolah dan keluarga juga terus terjalin, sehingga perkembangan Dimas dapat dipantau dan diarahkan bersama.
“Di SMP 15 Dimas juga disupport oleh guru dan lingkungan sekolah yang positif. Jadi saya sebagai orang tua mendukung Dimas, di sekolah juga sama,” jelasnya.
Ia menilai pihak sekolah tidak membiarkan Dimas berjalan sendiri dalam mengembangkan kemampuannya. Ketika Dimas lolos ke tahapan kompetisi yang lebih tinggi, sekolah ikut mencarikan pembimbing dan memberikan pendampingan tambahan, termasuk menghadirkan dosen untuk membantu persiapannya.
“Kita tidak dibiarkan sendiri, tapi juga diarahkan. Itu support dari sekolah yang kami sangat hargai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 15 Mataram, Sri Wahyu Indriani, mengatakan sekolah memberikan ruang bagi Dimas melalui kegiatan ekstrakurikuler Olimpiade IPA yang dilakukan secara rutin. Pembinaan juga diberikan secara bertahap ketika Dimas mulai mengikuti kompetisi dari tingkat sekolah hingga berhasil melewati tingkat Kota Mataram dan provinsi.
“Memang ada pendampingan khusus, selain itu Dimas ikut ekstrakurikuler Olimpiade IPA di sekolah yang rutin dilakukan,” ungkapnya.
Ketika Dimas dinyatakan lolos untuk mewakili NTB di tingkat nasional, sekolah memperkuat pendampingan dengan melibatkan dosen sebagai pembimbing. Pembinaan tersebut terus dilakukan hingga menjelang pelaksanaan tes nasional, sementara orang tua turut mengantar dan mendampingi Dimas selama proses pembinaan.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Bagi Rahmidian Safitri, dukungan kepada anak bukan berarti memberikan tekanan agar selalu menang, melainkan memberikan ruang bagi Dimas untuk menentukan pilihannya sekaligus memastikan ia memiliki dukungan ketika ingin mengembangkan kemampuannya.
Ibunda Dimas bahkan mengaku kerap belajar dari cara berpikir anaknya yang dinilai sudah memiliki pandangan jauh ke depan. Sejak masih SMP, Dimas telah mencari informasi mengenai sekolah-sekolah terbaik dan mempertimbangkan bagaimana pilihan tersebut dapat mendukung peluangnya masuk Fakultas Kedokteran.
Kini, perjalanan yang dimulai dari rasa ingin tahu itu membawa Dimas ke panggung yang lebih besar. Dari seorang siswa SMPN 15 Mataram yang pertama kali mencoba olimpiade ketika kelas VII, ia kini dipercaya membawa nama NTB untuk berkompetisi di OSN tingkat nasional.
Menjelang tes nasional, Rahmidian Safitri memberikan pesan agar anaknya tidak menjalani kesempatan tersebut dengan setengah hati. Menurutnya, Dimas harus mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki agar kelak tidak menyesal karena merasa belum memberikan usaha terbaik.
“Kamu sudah di titik ini, artinya kamu tidak boleh setengah-setengah. Kamu harus habiskan semua kemampuan kamu maksimal, karena peluang ini datang belum tentu besok ada lagi,” pesannya kepada Dimas.
Bagi keluarga, hasil akhir memang tetap diharapkan, terlebih Dimas memiliki cita-cita besar yang ingin diwujudkannya. Namun, apa pun hasil yang diperoleh di tingkat nasional, perjuangan Dimas hingga mampu membawa nama NTB sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua dan sekolah yang selama ini mendampinginya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....