Abdul Muis, Menyalakan Api Kebenaran dari Kota Kecil

  • 02 Jul 2026 15:09 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, ada satu nama yang sulit dipisahkan dari denyut kritik, hukum, dan perjuangan moral: H. Abdul Muis, SH, M.Si. Ia bukan Menteri, Bukan anggota dewan, Bukan pula pejabat yang memegang kuasa. Tetapi namanya dikenal lebih luas dari banyak pemegang jabatan.

Pejabat lama mengenalnya, pejabat baru pun tahu siapa dia bahkan masyarakat biasa pun akrab dengan namanya. Bukan karena popularitas, melainkan karena konsistensi.

Selama puluhan tahun, Abdul Muis berdiri di satu garis yang sama- menjaga kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak selalu disukai.

Ia adalah jurnalis senior. Satu dari sedikit orang yang mengalami langsung bagaimana pers pernah hidup dalam kungkungan kekuasaan. Di masa ketika menulis kritik bisa berarti ancaman, di masa ketika berita harus tunduk pada sensor.

Dan di masa ketika keberanian seorang wartawan diuji bukan oleh jumlah pembaca, tetapi oleh seberapa besar risiko yang siap ia tanggung.

Abdul Muis melewati zaman itu. Ia menyaksikan bagaimana reformasi membuka pintu kebebasan pers. Tetapi baginya, kebebasan bukan akhir perjuangan. Justru di era digital, tantangannya menjadi lebih rumit. Jika dulu musuhnya adalah kekuasaan yang represif, kini lawannya adalah kebisingan.

Hoaks, Sensasi, Clickbait dan Manipulasi opini. Dan algoritma yang lebih suka keributan daripada kebenaran.

Di tengah dunia yang gaduh itulah, Abdul Muis memilih tetap setia pada satu hal- akal sehat. Nama yang ia sandang bukan sekadar identitas. Sejak kecil, ia mengagumi Abdoel Moeis, tokoh pergerakan nasional yang dikenal dengan keberanian melawan kolonialisme lewat tulisan.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pelajaran sejarah, namun bagi Abdul Muis, itu menjadi kompas hidup. Seolah ada garis takdir yang menghubungkan keduanya.

Jika Abdoel Moeis dahulu menulis di Kaoem Moeda dan De Express untuk menggugat penjajahan, Abdul Muis hari ini membangun perlawanan lewat medianya sendiri- dompubicara.com. Sebuah portal berita yang namnya dan kontennya, diperhitungkan dalam kancah local hingga nasional.

Dari ruang redaksi lokal yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, ia menulis, membedah, dan menggugat. Bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk menjaga agar publik tetap sadar.

Ia percaya pada satu prinsip yang ia pinjam dari Immanuel Kant- Sapere Aude. (Beranilah berpikir sendiri). Sebuah prinsip yang sederhana, tetapi semakin langka di zaman ketika orang lebih suka ikut arus daripada menguji kebenaran.

Dalam tulisan-tulisannya, Abdul Muis kerap mengkritik cara media modern memperdagangkan penderitaan. Baginya, rakyat kecil bukan bahan konten, konflik bukan komoditas, dan kemiskinan bukan alat untuk mengejar klik.

Jurnalisme, menurutnya, harus kembali pada etika- menempatkan manusia sebagai tujuan, bukan alat. Tetapi perjuangan Abdul Muis tidak berhenti di meja redaksi. Ia sadar, ada luka sosial yang tidak cukup disembuhkan oleh berita. Ada ketidakadilan yang harus dibawa ke ruang sidang.

Di sanalah ia mengenakan jubah advokat. Di dunia hukum, ia berdiri untuk memastikan proses penegakan hukum berjalan sebagaimana mestinya. Pers memberinya suara, hukum memberinya alat. Dan keduanya ia pakai untuk tujuan yang sama- membela yang lemah.

Spirit itu terlihat ketika ia menguliti kebijakan anggaran daerah. Ia membedah APBD Dompu, membandingkannya dengan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), mengkritik ketimpangan fiskal, hingga menyoroti masa depan proyek tambang Hu’u yang dikelola PT Sumbawa Timur Mining (STM).

Di balik angka-angka triliunan rupiah, ia melihat manusia. Ia melihat buruh. Ia melihat pegawai honorer. Ia melihat masyarakat lingkar tambang yang menunggu keadilan ekonomi. Dan ia memilih berdiri bersama mereka.

Tentu, jalan seperti itu tidak pernah mudah. Menjadi independen berarti siap kehilangan banyak kenyamanan. Menjadi kritis berarti siap menghadapi tekanan. Menjadi jujur berarti siap tidak disukai.

Tetapi Abdul Muis tampaknya memahami satu hal yang jarang dipahami banyak orang- Kebenaran memang tidak selalu membuat hidup nyaman. Tetapi tanpanya, hidup kehilangan makna.

Satu abad lalu, Abdoel Moeis pernah diasingkan karena keberaniannya. Hari ini, Abdul Muis mungkin tidak diasingkan. Tetapi dalam banyak hal, ia tetap menanggung bentuk pengasingan lain- kesendirian dalam menjaga integritas di tengah kompromi yang makin biasa.

Dari Dompu, kota kecil yang sering luput dari sorotan nasional, Abdul Muis mengirimkan pesan penting kepada generasi hari ini- Bahwa perjuangan tidak membutuhkan panggung besar. Bahwa keberanian tidak harus lahir di pusat kekuasaan.

Dan bahwa pahlawan bisa lahir di mana saja- bahkan dari ruang redaksi kecil, meja kerja sederhana, dan secangkir kopi dingin yang menemani tulisan-tulisan penuh keberanian. Di dunia yang semakin bising, Abdul Muis memilih menjadi suara yang jernih. Suara yang mengingatkan bahwa kebenaran mungkin tidak selalu menang cepat.

Tetapi selama masih ada orang yang berani menjaganya, ia tidak akan pernah benar-benar kalah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....