Kisah Kolonel Inf. I Made Yudana Dari Anak PNS di Lombok hingga Kasrem 162/WB

  • 04 Jun 2026 13:39 WIB
  •  Mataram

RRI. CO. ID, Mataram – Suasana Coffee Morning yang digelar Korem 162/Wira Bhakti bersama wartawan NTB, Kamis pagi 4 Juni 2026, tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi antara TNI dan insan pers. Di balik secangkir kopi yang tersaji, mengalir kisah inspiratif tentang perjuangan hidup, nilai pengabdian, dan semangat pantang menyerah dari Kepala Staf Korem (Kasrem) 162/Wira Bhakti, Kolonel Inf I Made Alit Yudana.

Mewakili Danrem 162/Wira Bhakti yang berhalangan hadir karena tugas kedinasan, Kolonel Alit tampil bukan sekadar sebagai pejabat TNI. Di hadapan para wartawan, ia membuka lembaran perjalanan hidupnya sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Lombok.

Meski kedua orang tuanya berasal dari Bali, Alit menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Pulau Lombok. Ia menempuh pendidikan SD, SMP, hingga SMA di NTB sebelum meninggalkan daerah pada tahun 2009 untuk mengejar cita-cita menjadi prajurit TNI.

"Saya lahir dan besar di Lombok. Bahkan masuk Akabri melalui Korem 162/Wira Bhakti," kenangnya.

(Kolonel Inf. I Made Alit Yudana Foto Penrem 162/WB)

Perjalanan hidupnya jauh dari kemewahan. Ayahnya hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang pernah bertugas sebagai penyuluh pertanian lapangan (PPL), sementara ibunya juga seorang PNS di lingkungan kepolisian.

Namun dari keluarga sederhana itulah lahir semangat kerja keras yang kelak mengantarkannya menjadi perwira TNI.

Alit masih mengingat bagaimana sang ayah menjadi salah satu sosok yang aktif menggerakkan program Gogo Rancah di NTB, sebuah gerakan pertanian yang kala itu menjadi solusi menghadapi ancaman krisis pangan dan kekeringan.

Ia bahkan sering diajak sang ayah menyusuri medan berat menuju Sembalun dengan sepeda motor. Perjalanan yang kini hanya memakan waktu singkat, dahulu harus ditempuh hingga lima jam.

Dari perjalanan-perjalanan itulah ia mengenal arti perjuangan, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Kami sering berboncengan motor ke Sembalun saat bapak memberikan penyuluhan. Jalannya belum seperti sekarang," tuturnya.

Pengorbanan orang tua akhirnya membuahkan hasil. Tiga bersaudara dalam keluarganya berhasil menjadi abdi negara. Sang kakak berkarier di TNI Angkatan Laut, adiknya di Kepolisian, sementara dirinya mengabdikan diri di TNI Angkatan Darat.

Dengan nada bercanda, Alit menyebut dirinya kini menjadi satu-satunya yang belum menyandang pangkat jenderal.

"Mudah-mudahan doa rekan-rekan semua, tahun depan saya bisa menyusul menjadi jenderal dan menjadi kebanggaan masyarakat NTB," katanya yang disambut senyum para wartawan.

Namun perjalanan menuju keberhasilan itu tidaklah mudah.

Ia masih mengingat pesan sederhana namun membekas dari ayahnya ketika mengantar mengikuti seleksi Akabri. Saat itu sang ayah hanya membekalinya uang Rp25 ribu.

"Kamu jangan pulang sebelum berhasil. Kakak dan adikmu sudah lulus. Kamu boleh pulang kalau sudah sukses," begitu pesan ayahnya yang terus terngiang hingga kini.

Pesan itu sempat membuatnya tertekan. Namun justru menjadi bahan bakar yang mendorongnya terus berjuang hingga akhirnya berhasil lolos sebagai taruna Akabri.

Menurutnya, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh latar belakang keluarga, kekayaan, maupun koneksi.

Sebagai anak PNS biasa yang tidak memiliki akses kekuasaan, ia membuktikan bahwa kerja keras dan pola pikir menjadi faktor penting dalam mengubah nasib.

Aktivitasnya di dunia olahraga, khususnya sepak bola, yang pernah membawanya membela NTB di Piala Suratin, menjadi salah satu bekal yang membentuk mental juangnya.

Di hadapan para wartawan, Alit kemudian menyampaikan pesan yang menjadi refleksi perjalanan hidupnya.

Baginya, kemiskinan dan kesuksesan sering kali berawal dari cara seseorang memandang dirinya sendiri.

"Kalau mindset kita miskin, ya akan tetap miskin. Tapi kalau mindset kita ingin menjadi orang besar, maka kita akan berusaha menjadi besar," ujarnya.

Pesan itu kemudian ia kaitkan dengan kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, setiap kekurangan harus diperbaiki bersama, bukan dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan.

Ia juga berharap berbagai program pemerintah yang melibatkan TNI dapat dipahami secara proporsional oleh masyarakat.

"Kami hanya alat negara. Ketika negara memberi tugas, kami menjalankannya. Karena itu mari bersama-sama memperbaiki apa yang kurang demi kepentingan bangsa," ungkapnya.

Coffee Morning yang berlangsung hangat itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertemuan antara TNI dan wartawan. Ia berubah menjadi ruang berbagi inspirasi tentang bagaimana mimpi besar dapat lahir dari keluarga sederhana, bagaimana kerja keras mampu mengalahkan keterbatasan, dan bagaimana pengabdian tetap menjadi jalan utama untuk membangun negeri.

Di balik seragam loreng yang dikenakannya, Kolonel I Made Alit Yudana menunjukkan bahwa kisah seorang prajurit sesungguhnya tidak hanya tentang kepemimpinan dan tugas negara, tetapi juga tentang keteguhan menjaga mimpi yang pernah ditanamkan orang tua sejak masa kecil.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....