Jeritan Ibu Rumah Tangga di NTB dan Upaya Bulog Menstabilkan Harga Pangan

  • 19 Mei 2026 11:24 WIB
  •  Mataram

RRI. CO. ID- Mataram : Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, suara ibu rumah tangga di Nusa Tenggara Barat terdengar semakin nyaring. Harga minyak goreng yang terus merangkak naik menjadi keluhan utama warga dalam program “Hallo RRI” pada Selasa pagi, 19 Mei 2026. Keresahan masyarakat terkait mahalnya minyak goreng hingga harga beras menjadi pembahasan hangat selama satu jam penuh.

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Di sejumlah pasar tradisional, harga minyak goreng kemasan 2 kilogram disebut telah menembus Rp50 ribu. Bagi sebagian keluarga, terutama kalangan rumah tangga menengah ke bawah, kondisi ini mulai mengganggu kestabilan ekonomi keluarga sehari-hari.

Menjawab keresahan tersebut, Wakil Pemimpin Perum Bulog Kanwil NTB, Rizal P. Sukmadijaya, hadir langsung sebagai narasumber. Ia menegaskan bahwa pemerintah melalui Bulog terus berupaya menjaga stabilitas pangan di tengah gejolak harga pasar.

Sebelum membahas persoalan pangan, Rizal terlebih dahulu menyampaikan apresiasi kepada Radio Republik Indonesia yang menjadi official broadcaster Piala Dunia FIFA 2026. Menurutnya, peran RRI sangat penting sebagai media yang dekat dengan masyarakat sekaligus mampu menghadirkan informasi yang membangun optimisme publik.

Namun, fokus utama tetap pada kebutuhan pokok masyarakat. Rizal menjelaskan bahwa Bulog memiliki tugas utama menjaga stabilitas harga beras, jagung, dan kedelai. Selain itu, pemerintah juga memberikan penugasan tambahan untuk mendistribusikan minyak goreng “Minyak Kita” kepada masyarakat.

Di tengah kekhawatiran warga, Bulog NTB memastikan stok pangan daerah masih sangat aman. Saat ini, cadangan beras di gudang Bulog NTB mencapai sekitar 250 ribu ton. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat hingga dua tahun ke depan.

Tak hanya memenuhi kebutuhan NTB, daerah ini juga menjadi salah satu penyangga pangan bagi wilayah lain seperti Nusa Tenggara Timur dan Bali. NTB dinilai memiliki surplus produksi beras yang cukup besar sehingga mampu membantu distribusi antarwilayah.

Hingga Mei 2026, Bulog NTB telah menyerap hampir 150 ribu ton beras atau sekitar 60 persen dari target tahunan. Angka tersebut menunjukkan produksi pangan NTB masih berada dalam kondisi positif.

Di sisi lain, Bulog juga terus menjalankan program Gerakan Pangan Murah yang digelar hampir setiap hari bekerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai OPD. Dalam program tersebut, masyarakat dapat memperoleh beras, gula, hingga minyak goreng dengan harga lebih terjangkau dibanding harga pasar.

Bagi masyarakat kecil, program seperti ini bukan sekadar operasi pasar biasa. Kehadirannya menjadi harapan agar dapur tetap mengepul di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya mereda.

Lewat dialog interaktif di radio, keresahan warga akhirnya menemukan jawaban. Meski harga sejumlah kebutuhan masih bergerak naik, pemerintah memastikan stok pangan tetap tersedia dan berbagai langkah stabilisasi terus dilakukan. Di balik angka stok dan distribusi, ada satu hal yang paling dicari masyarakat: rasa tenang bahwa kebutuhan pangan mereka tetap terjamin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....