Dari Sampah Menjadi Energi, Inovasi SMKN 1 Lingsar Jawab Persoalan Lingkungan

  • 09 Mei 2026 00:21 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Tumpukan sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan, di tangan para guru dan siswa SMKN 1 Lingsar justru diubah menjadi sumber energi alternatif. Melalui sebuah alat pengolah sampah karya Balai Riset dan Inovasi Sains (BRINSA) SMKN 1 Lingsar, sampah organik hingga plastik dapat diproses menjadi listrik, bahan bakar, bahkan pupuk cair.

Di sudut sekolah itu, suara dentingan besi dan aroma sisa pembakaran menjadi penanda lahirnya sebuah inovasi sederhana namun sarat manfaat. Sebuah mesin berbahan tabung stainless dan pipa-pipa rakitan berdiri kokoh. Sekilas tampak seperti tungku biasa, tetapi di baliknya tersimpan gagasan besar tentang masa depan pengelolaan sampah.

Kepala BRINSA SMKN 1 Lingsar, Ir. Muliadi, menjelaskan alat tersebut dirancang memiliki tiga fungsi utama, yakni menghasilkan listrik dari pembakaran sampah organik, mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, dan meminimalkan polusi melalui proses penyaringan asap.

“Jadi alat ini ada tiga fungsi. Sampah daun, kayu, dan sejenisnya dibakar untuk memanaskan air hingga menghasilkan uap. Uap itu menggerakkan turbin yang terkoneksi ke generator sehingga menghasilkan listrik,” jelas Muliadi, Sabtu 9 Mei 2026.

Menurutnya, konsep kerja alat tersebut memanfaatkan energi panas dari pembakaran sampah organik. Air di dalam tabung dipanaskan hingga mendidih, lalu uap yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin uap. Putaran turbin kemudian dikopel ke generator untuk menghasilkan energi listrik.

Meski masih dalam tahap pengembangan skala kecil, alat itu diproyeksikan mampu menghasilkan daya listrik sekitar 500 hingga 1.000 watt. Kapasitas tersebut bergantung pada jenis sampah yang digunakan.

“Kalau sampah kayu, kandungan energinya cukup tinggi. Nanti energinya kita konversi menjadi listrik. Ini memang masih prototipe untuk menjaga sistemnya tetap stabil,” katanya.

Tak hanya sampah organik, BRINSA SMKN 1 Lingsar juga mencoba memanfaatkan sampah plastik melalui proses destilasi. Plastik yang dimasukkan ke tabung pembakaran akan dipanaskan hingga menghasilkan cairan menyerupai solar dan bensin.

Bahan bakar hasil pengolahan itu bahkan dirancang dapat digunakan kembali untuk mengoperasikan mesin tersebut. Oli bekas juga dimanfaatkan sebagai pemantik awal pembakaran sebelum mesin menghasilkan bahan bakarnya sendiri.

“Inilah yang ingin kami ajarkan kepada siswa, bahwa sampah itu bukan hanya dibuang, tetapi bisa punya nilai ekonomi dan energi,” tambah Muliadi.

Di balik inovasi itu, terdapat keresahan terhadap persoalan sampah yang terus meningkat, terutama di tingkat desa. Muliadi mengatakan, ke depan alat tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi prototipe yang lebih besar dan diterapkan langsung di lingkungan masyarakat.

“Desa-desa sering punya masalah sampah. Kalau alat ini berhasil dikembangkan, sampah tidak perlu lagi dibawa jauh ke tempat pembuangan. Bisa langsung diolah di desa,” ungkapnya

Salah satu tantangan terbesar dalam proses pengolahan sampah adalah polusi asap. Namun, tim BRINSA mencoba mencari solusi dengan sistem pendinginan dan penyaringan asap agar hasil pembakaran tidak mencemari lingkungan.

Asap dari proses pembakaran dialirkan melalui pipa pendingin yang direndam air sehingga berubah menjadi cairan. Cairan tersebut bahkan berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik.

“Kami ingin menghindari asap langsung ke udara. Jadi asap itu didinginkan sampai mengembun dan berubah menjadi cairan. Itu bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Lingsar, Ahmad Sabli, menilai inovasi tersebut menjadi bukti bahwa sekolah vokasi tidak hanya berfokus pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pengembangan riset berbasis lingkungan menjadi salah satu upaya sekolah dalam menanamkan budaya kreatif dan kepedulian terhadap persoalan sosial kepada siswa.

“Anak-anak harus dibiasakan berpikir inovatif. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” kata Ahmad Sabli.

Ia berharap inovasi tersebut dapat terus disempurnakan dan mendapat dukungan berbagai pihak agar bisa diterapkan lebih luas.

Bagi SMKN 1 Lingsar, alat pengolah sampah itu bukan sekadar proyek sekolah, melainkan gambaran kecil tentang bagaimana pendidikan dapat melahirkan solusi untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....