Makan Siang Gratis di Masjid Ishlahul Muslimin: Dari Jamaah untuk Semua

  • 17 Apr 2026 19:30 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Aroma masakan hangat mulai tercium dari halaman Masjid Islahul Muslim menjelang siang. Beberapa orang tampak duduk santai, ada yang menyeruput kopi, ada pula yang berbincang ringan sambil menunggu adzan dzuhur.

Hidangan akhirnya tersaji diatas meja prasmanan kecil dekat berugak masjid. Usai sholat tampak antrian yang tidak terlalu panjang, jamaah sudah mulai mengambil makanan.

Tak ada sekat, tak ada perbedaan. Semua dipersilakan dengan ramah oleh remaja masjid untuk mengambil makanan.

Disinilah Program Makan Siang Gratis (MSG) hidup, gerakan sederhana yang tumbuh dari kepedulian. Program ini terbuka bagi masyarakat umum, mulai dari warga sekitar masjid, kaum dhuafa, pedagang kecil, hingga para musafir yang singgah.

Kegiatan yang mengusung konsep “ sajian, kemudian kajian” ini tidak hanya menyediakan makanan gratis, tetapi juga menghadirkan nilai spiritual. Masyarakat dipersilahkan untuk makan siang tanpa dipungut sepeserpun.

Program yang digagas oleh remaja Masjid Besar Ishlahul Muslimin di bawah naungan Yayasan Ismin di Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur ini bukan sekadar tentang memberi makan. Ini adalah tentang menghadirkan rasa cukup di tengah keterbatasan, dan menghadirkan masjid sebagai ruang hidup yang benar-benar terbuka bagi siapa saja.

“Harapan kami sederhana, jangan sampai ada jamaah yang sujud dalam keadaan lapar,” ujar Yusron Edi, Ketua Remaja Masjid Besar Ishlahul Muslimin sekaligus penggerak utama program ini, Jumat, 17 April 2026.

Ia mengingat betul bagaimana awal mula program ini dirintis pada 2025 lalu. Saat itu, yang ada hanyalah niat dan keberanian menyebutnya dengan istilah “TNI” tekad, nekat, dan ikhlas.

Dari pengamatannya, kondisi jamaah begitu beragam. Ada pedagang kecil yang dagangannya tak laku saat hujan turun, ada yang sakit permanen dan tak lagi mampu bekerja, ada pula lansia yang tinggal sendiri, tanpa kepastian makan setiap harinya.

“Mereka ke masjid, tapi mungkin dalam keadaan lapar. Dari situlah kami merasa harus berbuat sesuatu,” katanya.

Awalnya, semua berjalan dengan keterbatasan. Namun perlahan, gerakan kecil ini menarik perhatian, para amaah yang datang tidak hanya makan, tapi juga mulai tergerak untuk ikut berbagi.

Ada yang tak punya uang, tetapi membawa bumbu dapur, ada yang juga datang dengan sayur dari kebun. Bahkan ada yang sekadar menyumbang sabun cuci piring, kontribusi kecil itu justru menjadi kekuatan besar.

Dari situ lahir Gerakan Beras Sejemput, sebuah ajakan sederhana kepada masyarakat untuk menyisihkan sedikit beras. Hasilnya diluar dugaan, tak jarang, satu genggam berubah menjadi dua kilogram.

“Yang kami pelajari, masyarakat itu sebenarnya ingin berbagi. Tinggal bagaimana kita membuka jalannya,” tutur Yusron.

Seiring waktu, jaringan kebaikan itu meluas, para petani menyumbang hasil panen, pedagang manaruh dagangan yang tak terjual, hingga donatur dari luar daerah ikut berpartisipasi. Semua menyatu dalam satu tujuan memastikan dapur masjid tetap mengepul.

"Kami sediakan kontainer didepan, bisa diisi apa saja oleh para jamaah yang berniat berbagi untuk Makan Siang Gratis," ucapnya.

Menariknya, program ini tidak berhenti pada makan gratis. Dari sisa dana dan dukungan yang terus mengalir, lahir berbagai program lanjutan mulai dari santunan anak yatim, pengobatan gratis bulanan, hingga fasilitas pijat refleksi untuk jamaah yang lelah bekerja.

Masjid pun perlahan berubah wajah, bukan hanya tempat shalat, tetapi juga tempat orang mencari ketenangan, kesehatan, bahkan sekadar secangkir kopi hangat.

Di sudut lain, Harianto, yang bertugas pada bagian logistik merupakan seorang pensiunan pegawai daerah, sibuk memastikan kebutuhan logistik terpenuhi. Ia menjadi bagian dari roda yang terus berputar di balik layar.

“Kopi dan gula saja bisa sampai ratusan kilo. Tapi alhamdulillah, selalu ada saja yang membantu,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Harianto, program ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan ladang pengabdian di masa pensiunnya. Banyak masyarakat yang datang mulai musafir yang singgah, pedagang yang mampir setelah berjualan, hingga warga sekitar yang datang bersama keluarga, semua disambut dengan ramah.

"Kita tetap ramah pada jamaah yang datang, kita persilakan untuk menyantap sajian yang disediakan," imbuhnya.

Di sinilah kekuatan utama MSG, bukan hanya makanan yang mengenyangkan, tetapi juga rasa diterima tanpa syarat. Bahkan, menurut Yusron, perlahan masyarakat mulai menghilangkan rasa gengsi untuk datang.

“Siapa saja boleh makan di sini. Tidak perlu merasa rendah, kita sama,” ujarnya.

Kini, dengan hampir 170 donatur yang terlibat, program MSG terus berjalan stabil. Bahkan, dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Bupati Lombok Timur.

"Harapannya donatur tetap dapat terus bertambah, seiring kita tengah menambah untuk makan malam gratis juga" ucapnya

Namun bagi para penggeraknya, keberhasilan terbesar bukan pada jumlah donatur atau banyaknya makanan yang tersaji. Melainkan pada perubahan kecil yang terasa, tak ada lagi jamaah yang harus menahan lapar saat datang ke masjid.

Saat ini Masjid Islahul Muslimin berdiri sebagai pengingat bahwa dari tempat ibadah, kepedulian bisa tumbuh, dan dari sepiring makan siang, harapan bisa terus hidup. Inisiatif berbagi ini diharapkan juga dapat muncul di banyak masjid lainnya di Lombok yang terkenal dengan seribu masjid.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....