Dari Batok Kelapa ke Limbah Kayu, Lompatan Kreatif Lalu Surya Bakti
- 20 Mar 2026 03:43 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Aroma kayu tua bercampur serbuk hasil pengampelasan langsung menyambut siapa saja yang memasuki rumah produksi milik Lalu Surya Bakti di Buntimba, Desa Bonder, Praya Barat, Lombok Tengah. Tempat itu jauh dari kesan galeri mewah. Hanya sebuah bengkel kerja sederhana, penuh debu kayu dan peralatan ukir yang berserakan.
Namun dari ruangan sederhana itulah lahir karya-karya bernilai seni tinggi. Di sudut ruangan, tumpukan kayu bekas berbagai ukuran tersusun rapi. Sebagian adalah potongan balok tua dan bekas tiang rumah warga yang sudah tidak terpakai. Bagi sebagian orang, kayu itu mungkin hanya layak menjadi kayu bakar. Tetapi di tangan Surya, limbah tersebut berubah menjadi karya yang bernilai ekonomi.
Pahat, palu kayu, hingga mesin bubut manual menjadi teman setia Surya dalam bekerja. Dengan ketelatenan, ia mengolah setiap potongan kayu hingga berubah bentuk.
Perbedaan suasana langsung terasa saat beralih ke sisi lain ruangan. Jika sebelumnya hanya terlihat kayu mentah, di bagian ini berbagai kerajinan kayu tertata seperti ruang pamer kecil.
Ada gelas kayu yang halus, piala dengan desain unik, hingga botol sampo dari kayu yang terlihat eksklusif. Beberapa karya lain juga tak kalah menarik, seperti koin kayu berukir presisi, asbak artistik, dan mangkuk kecil dengan motif urat kayu alami yang masih terlihat jelas.
Surya sebenarnya bukan nama baru di dunia kerajinan. Pria kelahiran 1985 ini sebelumnya dikenal sebagai perajin batok kelapa. Karyanya cukup dikenal karena detail dan kehalusannya.
Kini ia melakukan lompatan baru. Surya mulai memanfaatkan limbah kayu bekas sebagai bahan utama kerajinannya.
Ide itu muncul dari pengamatannya terhadap banyaknya kayu sisa bangunan di sekitar Desa Bonder yang biasanya hanya dibakar. Padahal menurutnya, kayu tua memiliki karakter yang justru tidak dimiliki kayu baru.
“Selain mengurangi limbah, kayu-kayu tua ini punya urat dan kesan artistik yang khas,” ujar Surya.
Mengolah kayu bekas tentu tidak mudah. Surya harus lebih teliti agar tekstur alami kayu tetap terlihat, namun permukaannya tetap halus dan layak digunakan.
Meski begitu, usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Dalam sehari, Surya mampu memproduksi lima hingga enam botol sampo kayu atau sekitar tujuh hingga delapan gelas kayu.
Pasarnya pun perlahan berkembang. Produk Surya kini banyak diminati di kawasan wisata seperti Gili Air, Gili Asahan, Gili Trawangan, hingga Kuta Mandalika.
Tak hanya itu, beberapa produknya juga sudah dikirim ke luar daerah, bahkan menembus pasar internasional seperti Jepang dan Afrika.
Bagi Surya, setiap potongan kayu bekas bukan sekadar limbah. Di balik serat kayu yang tua, ia melihat peluang untuk menciptakan karya baru yang bernilai seni sekaligus memberi kehidupan bagi usaha kecilnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....