Ibu Ummi Bawa Lingkungan Lestari lewat Pengurangan Sampah

  • 24 Feb 2026 23:04 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Berbekal waktu dan pengalaman membuat Ibu Ummi begitu aktif mengedukasi warga tentang untungnya mengolah sampah menjadi berkah. Seperti apa giat edukasi di Narmada, Lombok Barat, yang belakangan disebut-sebut sebagai energi terbarukan itu?

Mengumpulkan sampah plastik untuk diubah menjadi kerajinan dilakukan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Paman Sam, di Desa Narmada, Lombok Barat. Paman Sam merupakan singkatan dari Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah yang digagas Ibu Ummi, seorang pensiunan guru Bahasa Inggris di Lombok Barat. Lewat Paman Sam, Ibu Ummi mengumpulkan bungkus plastik berbagai produk untuk kemudian dipilah dan diubah menjadi celemek, tas belanja, dompet, sandal, dan piring plastik.

Mengolah sampah plastik menjadi aneka kerajinan menjadi aktivitas keseharian Ibu Umi di usia pensiun. Sebelum memprakarsai berdirinya Paman Sam, Ummi adalah guru bahasa Inggris di SMP 2 Lingsar, Lombok Barat.

Ummi mengajak ibu-ibu di Desa Narmada agar peduli lingkungan. Bermula ketika menjadi Ketua PKK. Jabatan yang otomatis setelah suami menjadi Pelaksana Tugas Kepala Desa Narmada.

Selama menjadi Ketua PKK, Ibu Ummi lancar membuat beberapa program. Salah satunya yang terkait dengan pelestarian lingkungan. Ada pula pembedayaan perempuan yang sifatnya temporer. Program itu dimasukan ke dalam Paman Sam sebagai wadah berkumpulnya ibu-ibu PKK. Alhasil, berbagai produk tercipta berkat mengumpulkan sampah plastik menjadi gantungan kunci. Sedangkan yang organik diolah menjadi kompos dan bio gas.

Atas upayanya, Ibu Ummi sering diminta untuk mengajari wisatawan yang datang ke Paman Sam untuk sekadar belajar atau membuat produk. Nyatanya, wisman tersebut tidak hanya belajar menjahit plastik tetapi juga berbelanja produk tas laptop atau tas punggung.

“Tema produk menjadi kekuatan Paman Sam di mata wisatawan asing. Tema produk menjadi storytelling bagi wisatawan kepada sejawat di Negara asal. Satu di antaranya berupa perpaduan sampah plastik dengan kain tenun Sasak. Perpaduan keduanya menciptakan harmoni antara yang organik dan yang non organi,” kata Ibu Ummi kepada RRI.CO.ID, belum lama ini.

Di lokasi pembuatan produk dari bahan plastik, di rumah Ibu Ummi, terdapat reaktor bio gas yang menjadi bahan bahak bakar memasak. Pun menyalakan lampu emergensi yang ada di depan rumah. Bahan bakar reaktor semula disuplai dari kotoran sapi pemberian mahasiswa Universitas Mataram. Pemberian dilakukan pada tahun 2021. Namun kotoran sapi tersebut kini telah diganti oleh sampah dari dalam dapur. Pergantian juga dikarenakan susahnya mendapat kotoran sapi semenjak pihak pengumpul memiliki sapi sendiri. Sapi pemberian mahasiswa akhirnya dijual.

Melalui tangkapan gas metana di dalam rekator yang kemudian mengalir ke pipa plastik, Ibu Ummi tak lagi bergantung pada gas elpiji 3 kg. Tangkapan gas metana di dalam pipa telah mampu menghidupkan kompor selama tiga jam secara nonstop. Keran kemudian ditutup kembali untuk menangkap metana baru. Melihat kesuksesan itu banyak warga Narmada yang tergerak mengolah sampah dapur menjadi biogas. Pemerintah daerah akhirnya melirik dan membangunkan 15 reaktor biogas bagi warga Narmada melalui Program Kampung Iklim.

Sampah organik yang dimasukan ke dalam reaktor biogas bukan hanya menjadi bahan bakar bagi warga. Pengolahan sampah di dalam reaktor menjadi pupuk cair yang telah kehilangan metana. Selanjutnya dipanen tanaman hias. Ada pula yang dimasukan ke dalam jeriken untuk pemupukan berkala. Cairan biogas tak menimbulkan bau, karena telah kehilangan metana.

“Untuk pupuk organik, tong berukuran besar ditempatkan di pojok halaman rumah dan menjadi instalasi komposer. Instalasi yang diisi sampah dapur itu menghasilkan cairan pupuk. Pengolahan pupuk menggunakan tong komposer dan dapat menjadi pakan ikan dicampur tepung dan vitamin,” ujarnya.

Upaya Ummi Ningsih mengolah limbah setidaknya telah mendatangkan kebaikan bagi kehidupan masyarakat Narmada. Keberkahan yang membawa lingkungan tetap lestari melalui pengurangan sampah plastik. Juga terbebas dari ketergantungan energi fosil. Bahkan telah menuju energi terbarukan

Rekomendasi Berita