Merakit Energi Terbarukan dari Bengkel SMKN 1 Jonggat

  • 29 Jan 2026 15:03 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Pagi belum terlalu terik ketika pintu bengkel praktik SMKN 1 Jonggat, Lombok Tengah, dibuka. Bau oli masih tercium, namun tak lagi dominan. Di sudut ruangan, sebuah motor bebek berdiri tanpa knalpot dan tanpa tangki bensin.

Kabel-kabel tersusun rapi, terhubung ke baterai berukuran besar. Sesekali terdengar dengung halus bukan raungan mesin, melainkan suara masa depan yang sedang diuji. Di tempat sederhana inilah sebuah gagasan besar tumbuh: Betrik Bebek Elektrik, motor listrik karya SMKN 1 Jonggat.

Bagi sebagian orang, bengkel sekolah mungkin hanya ruang praktik biasa. Namun bagi Ruju Rahmat, Kepala SMKN 1 Jonggat, bengkel ini adalah titik tolak perubahan. Tempat di mana siswa tidak hanya belajar membongkar mesin, tetapi juga belajar membaca arah zaman dan menyiapkan diri menghadapi masa depan.

"Ini sebagai tempat anak anak belajar. Jangan kita ajarkan anak anak sebatas teori saja, tetapi juga mengenal tekhnologi masa depan salah satunya konversi motor listrik ini," katanya saat ditemui tim RRI Mataram, Kamis 29 Januari 2026.

Gagasan mengembangkan motor listrik di sekolah kejuruan lahir dari kegelisahan panjang. Kegelisahan akan menipisnya sumber bahan bakar minyak, meningkatnya ancaman perubahan iklim, serta tantangan dunia kerja yang kian menuntut kompetensi baru. Ruju meyakini, sekolah kejuruan tidak boleh tertinggal dalam arus perubahan teknologi.

Namun jalan yang ditempuh tidaklah mudah. Keterbatasan anggaran, minimnya peralatan, hingga keraguan banyak pihak menjadi tantangan di awal. Bahkan, ide konversi motor listrik sempat dianggap terlalu berani untuk ukuran sekolah negeri di daerah.

Alih-alih mundur, Ruju memilih menempuh jalan panjang. Ia mulai membangun kompetensi guru, membuka jejaring dengan dunia industri, menghadirkan guru tamu, hingga mendorong siswa belajar langsung melalui praktik nyata. Perlahan, satu demi satu tantangan dihadapi.

Dari proses itulah lahir keberanian berikutnya: mengonversi motor berbahan bakar minyak menjadi motor listrik. Motor-motor lama milik sekolah dibongkar. Tangki bensin dilepas. Mesin digantikan dinamo. Baterai, controller, dan sistem kelistrikan dirakit ulang—sepenuhnya oleh guru dan siswa jurusan otomotif.

Kini, lima unit motor BBM telah berhasil dikonversi menjadi motor listrik. Bukan oleh pabrik besar. Bukan pula oleh teknisi profesional. Melainkan oleh sebuah sekolah.

"Anak anak SMK dituntut untuk terus berinovasi. Alhamdulillah semua bisa kami lakukan. Sekarang sudah ada Betrik dan terbaru ada motor bukan dengan BBM dari dari gas elpiji. Ini masih terus dicoba dikembangkan," tambahnya.

Betrik bukan sekadar proyek pajangan. Motor listrik ini mampu melaju hingga 70 kilometer per jam, menggunakan baterai 72 volt, dengan waktu pengisian daya sekitar tiga hingga empat jam. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan siswa SMK tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagi Ruju, konversi motor listrik adalah kelas tanpa dinding. Di sana, siswa belajar membaca skema kelistrikan, memahami manajemen energi, mengenal teknologi baterai, sekaligus mengasah kemampuan memecahkan masalah ketika sistem tidak berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, mereka belajar keberanian untuk berinovasi.

"Sama dengan merakit yang lain. Betrik dirakit dengan komponen lengkal. Butuh waktu 2 minggu jadi. Alhamdulillah sudah beberapa Betrik sydah digunakan dan hasillnya sangat luar biasa," ceritnya sumringah.

Kerja panjang tersebut akhirnya berbuah pengakuan. Pada November 2024, SMKN 1 Jonggat resmi mengantongi sertifikat bengkel konversi motor listrik dari Kementerian Perhubungan. Status ini menjadikan SMKN 1 Jonggat sebagai bengkel konversi motor listrik pertama di Lombok Tengah, sekaligus yang kedua di Nusa Tenggara Barat.

Sertifikat itu diraih melalui proses verifikasi ketat—mulai dari kelengkapan administrasi, kesiapan peralatan, hingga kompetensi teknisi. Sebuah capaian yang menegaskan bahwa inovasi sekolah ini dibangun di atas standar dan kualitas.

"Ini adalah sertifikat yang kami dapati melalui proses panjang. Resmi dari Kementerian Perhubunga. Tentu ini tidak sembarang," katanya.

Kini, SMKN 1 Jonggat tak lagi sekadar menjadi tempat belajar siswa. Sekolah ini mulai bertransformasi menjadi rujukan dan harapan baru bagi masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Langkah berikutnya telah disiapkan: menjadikan SMKN 1 Jonggat sebagai pusat pelatihan konversi motor listrik bagi masyarakat.

Di tengah ancaman krisis iklim dan tuntutan energi berkelanjutan, apa yang dilakukan SMKN 1 Jonggat menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tempat yang sederhana asal dipimpin dengan visi dan keberanian.

Dari bengkel kecil di Jonggat, Ruju Rahmat membuktikan satu hal penting: pendidikan bukan hanya tentang mencetak lulusan, tetapi tentang menyalakan masa depan perlahan, konsisten, dan dengan keyakinan.

Rekomendasi Berita