Mengenal Ponpes Qudwatussholihin, Bangun SDM Berkualitas Dari Selatan Lombok

  • 27 Okt 2025 15:50 WIB
  •  Mataram

KBRN, Lombok Timur: Di pelosok Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, berdiri sebuah yayasan pendidikan yang telah menjadi pelita bagi ribuan anak dari keluarga petani. Namanya Yayasan Qudwatussholihin, sebuah lembaga yang lahir dari keprihatinan seorang ulama terhadap akses pendidikan di wilayah terpencil.

“Dulu, jalan ke sini masih jalan kerbau. Kalau hujan, guru-guru sering libur, bukan karena malas, tapi karena jalan tidak bisa dilewati,” kenang Lalu Ainul Masqurak, L.C, Ketua Yayasan Qudwatussholihin, saat ditemui di yayasannya, Senin (27/10/2025).

Yayasan yang berada di Dusun Pemondah, Desa Pandan Wangi itu didirikan tahun 1993, ketika pendirinya almarhum TGH. Lalu Muhammad Nuh melihat banyak anak di desanya yang tidak bersekolah karena jarak dan keterbatasan ekonomi. Sebelumnya, beliau telah mendirikan sebuah pondok pesantren pembantu di Jerowaru, sebagai cabang dari pondok pesantren induk di Darul Yatama Wal Masakin (Dayama).

Melihat kebutuhan yang kian mendesak, almarhum kemudian mendirikan yayasan yang berfokus pada pendidikan formal. “Awalnya hanya Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Mondah. Sekarang sudah berkembang ke lima desa: Pandanwangi, Pemongkong, Seriwe, Kuang Rundun, dan Ekas Buana," tutur Ainul.

Kini, Yayasan Qudwatussholihin menaungi 11 lembaga pendidikan formal mulai dari MI hingga MA, serta 6 lembaga non-formal seperti PAUD dan kelompok bermain. Total ada 1.247 siswa dengan 193 tenaga pendidik yang setia mengajar dan sebagian besar merupakan alumni yayasan sendiri.

Meski beroperasi di tengah keterbatasan, semangat gotong royong masyarakat menjadi penopang utama yayasan ini. “Sampai sekarang, masyarakat masih rutin menyumbang. Biasanya saat panen gabah atau tembakau, mereka kirim sebagian hasilnya ke yayasan,” kata Ainul.

Sebelum ada dana BOS dari pemerintah, operasional yayasan sepenuhnya bergantung pada partisipasi sukarela masyarakat. Bahkan pembangunan gedung-gedung sekolah dilakukan dengan tenaga gotong royong jamaah.

“Rata-rata bangunan ini berdiri karena kerja sama warga. Tidak ada kontraktor, tidak ada proyek besar semua dari tangan masyarakat,” ujarnya dengan bangga.

Meski jumlah siswa terus bertambah, tantangan besar masih membayangi, terutama soal akses dan kesejahteraan guru. Dari hampir dua ratus guru, hanya satu orang berstatus PNS, sementara sekitar 30–40 orang telah memiliki sertifikasi guru. Sisanya adalah honorer murni.

“Kami pernah ditawari agar guru-guru diangkat menjadi PPPK, tapi kami tolak. Karena kalau begitu, mereka bisa ditarik ke sekolah negeri, padahal mereka dibutuhkan di sini,” kata Ainul.

Selain itu, Yayasan masih menanggung utang sekitar Rp200 juta untuk pembebasan lahan di wilayah Kerong, tempat rencana pendirian sekolah baru. Daerah tersebut dinilai sangat membutuhkan karena akses sekolah terdekat terlalu jauh bagi anak-anak.

Salah satu masalah yang terus dihadapi adalah putus sekolah setelah SD. Alasannya bukan biaya, melainkan jarak dan kekhawatiran orang tua melepas anak kecil menempuh perjalanan jauh ke sekolah menengah.

“Banyak orang tua takut kalau anaknya harus naik motor sendiri ke sekolah. Jadi mereka lebih memilih berhenti sekolah,” jelas Ainul.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Kesadaran masyarakat meningkat, dan kini angka putus sekolah menurun drastis. Banyak alumni yang melanjutkan ke jenjang kuliah, bahkan menjadi guru, kepala desa, dan anggota kepolisian.

Yayasan Qudwatussholihin tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga memperkenalkan program ekstrakurikuler seperti taekwondo, bahasa Inggris, dan diniyah sore. Tujuannya sederhana, membuka wawasan anak-anak desa agar siap menghadapi dunia luar tanpa meninggalkan akar keislaman mereka.

Ainul menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar pondok pesantren dan yayasan mandiri seperti Qudwatussholihin mendapat perhatian lebih.

“Pesantren seperti kami ini berjalan dengan kemandirian dan niat lillah,” ujarnya pelan. “Mudah-mudahan dengan adanya kebijakan baru, pesantren bisa mendapat akses pembangunan yang lebih baik,” harapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....