Potret Sriah, Penjual Parang Keliling Sejak Zaman PKI

  • 10 Mar 2025 12:22 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Matahari siang itu begitu terik. Jalan Langko Kota mataram juga terpantau ramai lancar. Dari sudut perkantoran jalan langko terlihat lelaki berusia senja membawa tas ransel menggunakan penutup kepala dari ulatan daun pandan.

Iya, dia adalah Sriah, warga Pengenjek, Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah, yang setiap hari berkeliling kota mataram untuk menjual produk pandai besi seperti parang dan pisau. Dengan wajah penuh letih, Sriah menceritakan perjuangan hidupnya sebagai penjual parang.

Ternyata, profesi Sriah saat ini sudah digelutinya tidak lama setelah zaman PKI berlalu. Artinya bisa dihitung, berapa lama usianya sampai saat ini dia berjualan keliling menjajakan dagangannya. Sasaran yang dituju juga sebagian besar adalah para pegawai perkantoran. Dengan kerja ikhlas dan penuh ridho ilahi, Sriah selalu bersyukur berpapaun yang di peroleh hari itu.

”Iye wah ntan te marak niki bedagang, pokok ne halal (Begini sudah cara kita jualan yang penting halal,” Katanya, saat di temui di Jalan Langko Mataram, pada Kamis 6 Maret 2025.

Sriah tidak memiliki kendaraan pribadi yang digunakan untuk menjual dagangannya keliling kota mataram. Setiap hari, dari Pengenjek Lombok Tengah dia menggunakan ojek langganan menuju Narmada Lombok Barat untuk selanjutnya menggunakan angkutan kota menuju pusat kota.

”Laguk kan ndek keruan pire mauq te, jari tetep siepan sango ulek laun sang te sak ndek mauq bedagang (tidak karuan berapa dapat jualan sehari, makanya tetap saya bawa uang untuk ongkos pulang, siapa tau tidak dapat jualan hari itu,” tuturnya.

Meski usia sudah memasuki lansia, namun kaki Sriah tidak pernah terlihat kaku untuk berjalan melintasi jalanan di Kota Mataram. Semangat membesarkan 4 orang anaknya yang saat ini sudah berkeluarga, menjadi penyemangatnya sejak awal menekuni profesi sebagai penjual parang. Bahkan dia belum pernah berencana mencari rizki dengan cara lain, selain menjadi pedagang parang.

Menurut Sriah, berniaga adalah kegiatan mulia yang disukai Rasulullah SAW, sehingga jika istiqomah dan mengharap ridho Allah maka akan mampu mencukupi kehidupannya.

Suka duka menjadi pedagang parang kata Sriah juga sangat banyak. Hasil penjualannya juga tidak tentu tergantung dari banyak atau tidaknya pembeli yang membutuhkan dagangannya saat itu.

Terkadang, hari-hari berjualan bisa tidak mendapat rizki sama sekali. Namun pada hari-hari yang lain penjualan bisa mencapai omzet 300 hingga 400 ribu perhari. Semua hasil penjualan diputar kembali untuk modal dan sisanya hanya untuk kebutuhan sehari-hari.

”Lekan laek berusahe niki cukup untuk kebutuhan idup kance keluarge, mauq sekolahan kanak (dari dulu usaha saya ini hanya untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya untuk kebutuhan sekolah anak),” Kata Sriah.

Sriah hanya sebagai penjual saja, karena seluruh barang dagangannya diambil dari pengerajin di Desa Berembeng Beber Lombok Tengah. Desa tersebut memang dikenal sebagai pusat pengerajin besi yang disulap menjadi aneka kebutuhan rumah tengga seperti parang, pisau, sabit maupun kapak.

Pada bulan Ramadhan 1446 H, Sriah juga tidak mengurangi jumlah barang yang dijual, melainkan di tambah. Harapannya, bulan yang penuh berkah ini akan menambah pundi rizkinya untuk kebutuhan sehari-hari dan persiapan untuk kebutuhan lebaran. Sriah mengaku tidak ada alasan untuk pensiun dari pekerjaan ini, meski usianya sudah tidak memungkinkan. Profesi ini dinilai sangat mulai, ketimbang menjadi pengemis jalanan.

”Ee gamak, araq an tiang ngelining marak driki ketimbang tiang jari pengemis (lebih baik saya keliling jualan begini ketimbang jadi pengemis),” Katanya.

Cerita Sriah menggambarkan sikap istiqomah seorang muslim yang berkeyakinan rizki itu hanya datang dari Allah SWT. Usia saat ini hanya angka, karena yang menentukan batas rizki untuk dinikmati hanya sang pencipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....