Ritual Adat Ngayu-Ayu: Tradisi Suku Sasak yang Sarat Makna

  • 17 Feb 2025 08:30 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Di kaki Gunung Rinjani, Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur, tersimpan tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun selama lebih dari 600 tahun. Upacara adat Ngayu-Ayu, yang digelar setiap tiga tahun sekali, bukan sekadar perayaan, tetapi juga wujud rasa syukur masyarakat Suku Sasak kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi dan perlindungan dari bencana.

Makna di Balik Ritual Ngayu-Ayu

Ngayu-Ayu memiliki filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Tokoh adat Sembalun Bumbung, Purnipa, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan simbol keseimbangan hidup. “Upacara ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga cara kami menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Pengumpulan air dari 13 mata air dalam ritual ini melambangkan pentingnya menjaga kelestarian alam,” ungkapnya.

Salah satu elemen penting dalam ritual ini adalah pengumpulan air dari 13 mata air, yang tidak hanya menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga mengajarkan nilai konservasi lingkungan. Martawi, sesepuh adat setempat, menambahkan bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya. “Kami percaya bahwa kehidupan tidak akan berjalan tanpa adanya air. Oleh karena itu, ritual ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga sumber daya alam,” tuturnya.

Perkembangan Ritual di Tengah Arus Zaman

Seiring waktu, upacara Ngayu-Ayu mengalami perkembangan, terutama sejak masuknya Islam ke Pulau Lombok. Jika awalnya ritual ini erat dengan unsur animisme, kini telah mendapat sentuhan nilai-nilai Islami yang tetap dijaga hingga saat ini. “Ritual ini mengalami penyesuaian dengan ajaran Islam, tetapi tetap mempertahankan esensinya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan,” tambah Martawi.

Keunikan lain dari upacara ini adalah kehadiran raja dan tokoh adat dari berbagai daerah di Nusantara yang turut serta dalam prosesi sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan lintas budaya. Tradisi ini bukan hanya memperkuat identitas budaya Suku Sasak, tetapi juga menjadi simbol keberagaman dan persatuan.

Melestarikan Warisan Leluhur

Ngayu-Ayu bukan hanya sebuah ritual, tetapi juga identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Sembalun Bumbung. Dengan keindahan alam yang memikat dan tradisi yang tetap terjaga, Lombok membuktikan bahwa warisan leluhur adalah kekuatan yang patut dilestarikan.

Mari menjaga budaya, merawat alam, dan mempererat persaudaraan!

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....